KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pengiriman magnet tanah jarang dari China ke Amerika Serikat (AS) masih belum kembali ke level sebelum perang dagang, meski kedua negara telah menyepakati gencatan dagang pada 2025. Kondisi ini memicu kekhawatiran di pemerintahan Presiden Donald Trump bahwa Beijing belum sepenuhnya menjalankan komitmen dalam kesepakatan tersebut. Melansir Bloomberg (20/7), berdasarkan data bea cukai China, ekspor magnet tanah jarang ke AS pada semester I-2026 rata-rata mencapai 479 ton per bulan. Jumlah tersebut sekitar 20% lebih rendah dibandingkan rata-rata 586 ton per bulan pada periode 2022–2024, sebelum China memperketat ekspor sebagai respons atas perang tarif dengan AS. Padahal, kelancaran pasokan material kritis, termasuk magnet tanah jarang, menjadi salah satu poin penting dalam kesepakatan yang dicapai Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Oktober 2025 untuk menghentikan sementara eskalasi perang dagang.
Ekspor Magnet Tanah Jarang China ke AS Belum Pulih Sepenuhnya
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pengiriman magnet tanah jarang dari China ke Amerika Serikat (AS) masih belum kembali ke level sebelum perang dagang, meski kedua negara telah menyepakati gencatan dagang pada 2025. Kondisi ini memicu kekhawatiran di pemerintahan Presiden Donald Trump bahwa Beijing belum sepenuhnya menjalankan komitmen dalam kesepakatan tersebut. Melansir Bloomberg (20/7), berdasarkan data bea cukai China, ekspor magnet tanah jarang ke AS pada semester I-2026 rata-rata mencapai 479 ton per bulan. Jumlah tersebut sekitar 20% lebih rendah dibandingkan rata-rata 586 ton per bulan pada periode 2022–2024, sebelum China memperketat ekspor sebagai respons atas perang tarif dengan AS. Padahal, kelancaran pasokan material kritis, termasuk magnet tanah jarang, menjadi salah satu poin penting dalam kesepakatan yang dicapai Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Oktober 2025 untuk menghentikan sementara eskalasi perang dagang.
TAG: