Ekspor Mainan Indonesia Melonjak 18,2%, Pasar Global Makin Menjanjikan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja industri mainan Indonesia menunjukkan tren positif pada paruh pertama 2026. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ekspor produk mainan nasional mencapai US$ 351,8 juta sepanjang Januari-Juni 2026, meningkat sekitar 18,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 297,7 juta.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan, pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa produk mainan Indonesia masih memiliki peluang untuk memperluas pasar di tingkat global.

“Pasar ekspor Indonesia saat ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, Cina, Australia, dan Republik Ceko, dan capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusinya di pasar global,” ujar Reni dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).


Menurut Reni, industri mainan memiliki peran strategis tidak hanya dalam perdagangan, tetapi juga sebagai sektor padat karya sekaligus menghasilkan produk dengan nilai tambah. Berdasarkan data BPS 2024 dan SIINas 2025, tercatat 256 unit usaha industri mainan dengan jumlah tenaga kerja mencapai 15.663 orang.

Baca Juga: Begini Strategi UMKM Kembangkan Bisnis, Bidik Pasar B2B hingga Ekspor

Selain itu, terdapat 10 sentra IKM mainan yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Dari sisi perdagangan, industri mainan Indonesia juga mencatat surplus net ekspor selama lima tahun terakhir. Pada 2025, nilai ekspor industri mainan mencapai sekitar US$ 664,6 juta, tumbuh 8,2% dibandingkan capaian pada 2024.

Reni mengatakan, pemerintah akan terus memperkuat daya saing industri mainan melalui standardisasi produk, peningkatan kapasitas produksi, serta perluasan akses pasar.

“Tantangan utama industri nasional saat ini bukan sekadar kemampuan memproduksi, melainkan bagaimana kita memastikan produk-produk buatan dalam negeri diserap dan digunakan oleh masyarakat serta mampu mengambil peluang dalam rantai pasok global,” katanya.

Selain mengoptimalkan pasar ekspor, Kemenperin melihat potensi pertumbuhan industri mainan dari pasar domestik, terutama untuk produk yang mendukung kegiatan pendidikan. Segmen tersebut antara lain mencakup mainan edukatif, permainan konstruksi, puzzle hingga board game.

Menurut Reni, mainan dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran sekaligus mendukung pengembangan kreativitas, kemampuan motorik, imajinasi, dan kemampuan memecahkan masalah pada anak.

“Hal ini memberikan peluang bagi industri mainan untuk mengembangkan produk seperti mainan edukatif, permainan konstruksi, puzzle, dan board game,” ucapnya.

Di sisi lain, Kemenperin terus mendorong pemanfaatan produk mainan buatan dalam negeri melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Hingga 2026, sebanyak 65 pelaku industri mainan telah mengantongi sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

“Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan industri mainan nasional untuk memenuhi kandungan dalam negeri telah mulai terbentuk dan perlu terus diperluas agar semakin banyak produk lokal yang dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah,” jelas Reni.

Baca Juga: Inalum Beberkan Progres Proyek SGAR Fase II, FID Ditargetkan Tuntas Dalam Waktu Dekat

Direktur Industri Aneka Kemenperin Reny Meilany mengatakan, pemenuhan standar menjadi salah satu aspek penting dalam meningkatkan daya saing industri mainan, khususnya dari sisi kualitas dan keamanan produk.

“Kemenperin konsisten melakukan pembinaan dan fasilitasi bagi pelaku industri mainan, khususnya yang berskala IKM,” jelasnya.

Pembinaan tersebut meliputi fasilitasi sertifikasi SNI mainan anak, pendampingan ISO 9001:2015, asesmen dan implementasi Industri 4.0, hingga penghitungan TKDN. Kemenperin juga memberikan pendampingan kepada sentra IKM, membuka akses pasar, memfasilitasi business matching dan pameran internasional, serta menjalankan program restrukturisasi mesin dan peralatan bagi IKM.

Penguatan industri mainan nasional tersebut turut menjadi pembahasan dalam Indonesia Toy Forum 2026 yang diselenggarakan Kemenperin melalui Ditjen IKMA bersama Asia Toy and Play Association (ATPA).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News