JAKARTA. Kendati industri makanan dan minuman di dalam negeri tetap tumbuh, rupanya tidak demikian dengan kemampuan ekspornya. Gara-gara dampak krisis ekonomi global tahun lalu, kalangan industri makanan dan minuman memperkirakan ekspor sektor tersebut pada 2009 ini akan turun sekitar 5%, menjadi hanya US$ 2,84 miliar. Tahun lalu ekspor sektor tersebut US$ 2,997 miliar. Selama ini pasar ekspor produk makanan dan minuman Indonesia sebagian besar tertuju ke Amerika Serikat dan Eropa yang terimbas krisis cukup parah. "Jadi, pemulihan ekspor kita pun menyesuaikan negara-negara tersebut," ujar Franky Sibarani, Ketua Bidang Regulasi Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), (2/11). Penurunan tersebut terutama terjadi pada ekspor makanan olahan, khususnya di sektor perikanan. Pembeli asing, menurut Franky, mengubah pesanan mereka agar bisa lebih efisien dalam harga maupun volume. Itu merupakan strategi mereka untuk menyiasati daya beli masyarakat setempat.
Ambil contoh, ungkap Franky, pesanan udang beku olahan yang selama ini termasuk salah satu produk unggulan Indonesia. "Jika sebelumnya, pembeli membeli udang beku per kilogram terdiri dari dua ekor udang, kini negara-negara pemesan menghendaki setiap kilogram berisi empat ekor udang dengan ukuran yang lebih kecil," jelasnya. Meski realisasi ekspor turun 5% , Franky menilai perolehan ekspor di kisaran US$ 2 miliar masih cukup baik. Penilaian itu dia lontarkan lantaran melihat beratnya hantaman krisis terhadap ekspor industri makanan dan minuman.