Ekspor merosot, produksi batubara ikut anjlok



JAKARTA. Anjloknya kinerja ekspor batubara nasional terus menekan tingkat produksi para perusahaan berlisensi Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang anjlok sebesar 10,48% di sepanjang empat bulan pertama tahun ini.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi batubara PKP2B sepanjang periode Januari-April 2016 hanya mencapai 86,63 juta ton. Jumlah tersebut jauh menurun dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 96,77 juta ton.

Penyebabnya adalah ekspor yang turun tajam. Untuk periode yang sama, ekspor dari PKP2B hanya mencapai 68,09 juta ton atau merosot 14,29% dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 79,44 juta ton.


Selain itu, rendahnya permintaan pada tahun lalu membuat stok batubara yang tidak terjual masih menumpuk. Alhasil, produksi pun masih belum bisa digenjot.

"Penjualan termasuk stok tahun 2015 yang dijual di 2016, jadi produksi itu hanya produksi tahun 2016," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM, Sujatmiko, kepada KONTAN, Minggu (5/6).

Di sisi lain, permintaan domestik sejak tahun lalu hingga sekarang terus meningkat. Batubara untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri (domestic market obligation/DMO) dari PKP2B meningkat 34,54% dari 18,24 juta ton pada empat bulan pertama tahun lalu menjadi 24,54 juta ton di periode yang sama tahun ini.

Adapun untuk data produksi dan penjualan dari perusahaan pemegang lisensi Izin Usaha Pertambangan (IUP), Sujatmiko mengaku pihaknya masih melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah masing-masing.

Sementara itu, Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia menyatakan pasar ekspor sebenarnya masih memiliki peluang untuk meningkat tahun ini.

Dia menilai para pelaku usaha masih optimistis beberapa faktor pendorong akan mendukung hal tersebut.

"Kemungkinan ada peningkatan permintaan dari India. Kemudian dari China meskipun tidak signifikan, tapi diharapkan ada peningkatan juga," tuturnya.

Selain itu, kendati pasokan masih membanjiri pasar global, terbuka peluang jumlahnya akan mulai berkurang. Pasalnya, sudah banyak tambang-tambang berskala kecil yang berhenti beroperasi karen tidak mampu menanggung kerugian.

Menurutnya, dengan terus berkurangnya stok dan pasokan, maka harga batu bara akan mulai merangkak naik.

Asal tahu saja, pada bulan lalu HBA tidak mampu mempertahankan tren kenaikan yang terjadi sejak Maret 2016 dengan mengalami penurunan sebesar 2,14%.

HBA Mei 2016 tercatat senilai US$ 51,2 per ton atau turun US$ 1,12 dibandingkan dengan HBA April 2016 senilai US$ 52,32 per ton. HBA bulan ini tersebut hanya sedikit di atas HBA terendah yang terjadi pada Februari 2016 senilai US$ 50,92.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News