Ekspor Minyak Arab Saudi ke China Anjlok ke Level Terendah Imbas Konflik Iran dan AS



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Penjualan minyak mentah Arab Saudi ke China diperkirakan akan anjlok ke level terendah sepanjang sejarah pada Mei mendatang. Penurunan ini dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak serta mengganggu jalur pengiriman, menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut.

Perusahaan minyak negara, Saudi Aramco, disebut akan mengirimkan sekitar 20 juta barel minyak ke pelanggan di China pada Mei, atau setara sekitar 645.161 barel per hari. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan pengiriman bulanan sekitar 45 juta barel pada Januari dan Februari, berdasarkan data Kpler dan Reuters.

Sejumlah kilang besar di China, seperti Sinopec dan Rongsheng Petrochemical, dilaporkan memangkas tajam permintaan mereka untuk pengiriman Mei. Sumber menyebutkan bahwa Sinopec mengurangi volume pemesanan karena masih akan menerima sebagian kargo yang sebelumnya dijadwalkan untuk April.


Baca Juga: Bos Saudi Aramco Batal Hadiri CERAWeek, Fokus Tangani Konflik Iran

Saudi Aramco menolak memberikan komentar terkait alokasi Mei, sementara Sinopec dan Rongsheng belum merespons permintaan konfirmasi.

Pekan lalu, Arab Saudi menetapkan harga jual resmi minyak Arab Light untuk pasar Asia pada Mei dengan premi tertinggi sepanjang sejarah, yakni US$ 19,50 per barel di atas rata-rata harga Oman/Dubai. Harga ini naik US$ 17 dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan harga yang signifikan tersebut membuat sejumlah kilang memilih mengurangi pembelian. Selain itu, pengiriman minyak untuk Mei dilaporkan akan dilakukan melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Sejak konflik pecah, Arab Saudi mengalihkan ekspor minyaknya ke pelabuhan Yanbu melalui pipa East-West. Meski demikian, perusahaan juga meminta pelanggan menyiapkan rencana pengiriman melalui Yanbu dan Ras Tanura sebagai antisipasi dibukanya kembali Selat Hormuz.

Serangan yang terjadi pekan lalu sempat memangkas kapasitas produksi minyak Arab Saudi sekitar 600.000 barel per hari serta mengurangi aliran melalui pipa East-West hingga sekitar 700.000 barel per hari. Namun pada Minggu, pihak Saudi menyatakan kapasitas penuh pemompaan melalui pipa tersebut telah pulih hingga sekitar 7 juta barel per hari.