Ekspor Minyak Arab Saudi Naik ke Level Tertinggi dalam 4 Bulan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspor minyak mentah Arab Saudi meningkat pada Juli 2026, seiring kenaikan produksi minyak negara tersebut.

Data ini menunjukkan pasokan dari salah satu produsen minyak terbesar dunia kembali menguat di tengah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.

Mengutip data Joint Organizations Data Initiative (JODI), ekspor minyak mentah Arab Saudi mencapai 4,125 juta barel per hari (bph) pada Juli, naik sekitar 3,3% dari 4,0 juta bph pada Juni. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Maret 2026.


Baca Juga: Ekspor Minyak Arab Saudi ke China Anjlok ke Level Terendah Imbas Konflik Iran dan AS

Kenaikan ekspor tersebut sejalan dengan lonjakan produksi minyak mentah Arab Saudi. Produksi meningkat menjadi 8,135 juta bph pada Juli dari 7,122 juta bph pada bulan sebelumnya.

"Ekspor minyak mentah dan produk Saudi meningkat pada Juli seiring meredanya ketegangan regional," kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Namun, Staunovo memperkirakan ekspor Arab Saudi berpotensi melemah pada Agustus, terutama dari terminal-terminal di kawasan Laut Merah, akibat kembali meningkatnya ketegangan yang melibatkan kelompok Houthi.

Di sisi pengolahan, konsumsi minyak mentah oleh kilang Saudi justru turun tipis menjadi 2,478 juta bph pada Juli dari 2,498 juta bph pada Juni. Penggunaan minyak mentah untuk pembakaran langsung juga turun 22.403 bph menjadi 561.097 bph.

Perkembangan tersebut terjadi ketika jalur distribusi minyak Saudi kembali menghadapi risiko geopolitik. Arab Saudi pada Selasa mulai mengoperasikan kembali East-West Pipeline setelah sempat ditutup akibat serangan drone pada 13 September.

Baca Juga: Pipa Minyak Arab Saudi Ditutup, 4% Pasokan Global Terancam Hilang

Ekspor dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah juga berpotensi kembali berjalan setelah operasional pipa tersebut pulih, menurut tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut.

Sementara itu, ketegangan di kawasan Laut Merah masih menjadi perhatian pasar. Kelompok Houthi dilaporkan berupaya merebut posisi strategis di Yaman untuk memutus akses ke pesisir Laut Merah dari wilayah yang masih dikuasai pasukan yang didukung Arab Saudi.

Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Iran dapat membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.

Perkembangan di sejumlah jalur transportasi energi tersebut menjadi faktor penting bagi pasar minyak global karena gangguan pada jalur ekspor utama dapat memengaruhi pasokan dan harga minyak.

Baca Juga: Perang Iran Panaskan Harga Minyak, Laba Raksasa Minyak Arab Saudi Ini Melambung 44%

Dengan demikian, kenaikan ekspor Arab Saudi pada Juli menjadi sinyal tambahan pasokan, tetapi prospek ekspor berikutnya masih dibayangi risiko gangguan logistik akibat eskalasi geopolitik di Laut Merah dan kawasan Timur Tengah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News