KONTAN.CO.ID - HOUSTON. Ekspor minyak mentah AS ke Asia anjlok menjadi 1 juta barel per hari pada bulan Januari, terendah dalam lebih dari dua tahun karena tingginya tarif angkutan dan harga minyak Timur Tengah yang lebih kompetitif. Mengutip Reuters, Selasa (6/2), lonjakan tarif angkutan supertanker membuat pengiriman ke Asia pada awal bulan menjadi mahal, khususnya ke China. Ekspor ke China, turun menjadi 190.000 barel per hari, terendah dalam 13 bulan. Volume ekspor ke Korea Selatan tetap stabil di angka 494.000 barel per hari, menurut data dari layanan pelacakan kapal Kpler.
Secara keseluruhan, ekspor minyak AS turun menjadi 3,8 juta barel per hari, terendah dalam setahun. Ekspor pada bulan Januari biasanya melemah karena persediaan dalam negeri pulih setelah arus keluar musiman pada bulan Desember. Baca Juga: Armada Bayangan Rusia Untuk Jual Minyak Kehabisan Tempat untuk Bersembunyi Sebagian minyak yang biasanya mengalir ke Asia dikirim ke Eropa, dimana pangsa ekspornya pada bulan Januari meningkat menjadi 55%, yang merupakan rekor tertinggi. Belanda menghasilkan rekor produksi 614.000 barel per hari, diikuti oleh Inggris dan Spanyol. Pangsa Asia turun menjadi 27% pada bulan lalu, terendah sejak Desember 2016. Data menunjukkan, gejolak di Laut Merah tidak mengurangi impor minyak mentah AS dari Timur Tengah, dan sebagian besar pengiriman tersebut mendarat di Pantai Barat AS melalui Samudra Pasifik. Volume ekspor minyak dari Arab Saudi ke Pantai Teluk AS dan Pantai Timur tetap stabil karena minyak diangkut dengan kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar yang mengitari Tanjung Harapan di Afrika, sehingga tidak melalui jalur Laut Merah. Perubahan rute telah mendukung kedatangan minyak mentah CPC Blend dari Kazakhstan ke AS, yang naik 8.000 barel per hari pada bulan Januari dibandingkan dengan rata-rata pergerakan tiga bulan. Perusahaan riset Energy Aspects mengatakan mereka memperkirakan ekspor AS pada bulan Februari akan meningkat menjadi 4,4 juta barel per hari karena harga minyak mentah light sweet AS kompetitif dibandingkan kualitas Laut Utara dan Afrika Barat.