Ekspor Mobil China Melonjak, Penjualan Domestik Malah Makin Lesu



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Ekspor mobil China tetap kuat pada bulan Agustus 2026 seiring langkah BYD dan produsen mobil lainnya mengirimkan kendaraan ke luar negeri dalam jumlah rekor.

Namun, ini sangat kontras dengan pasar domestik China yang lesu. Penjualan mobil di China turun selama 11 bulan berturut-turut.

Ekspor kendaraan penumpang China melonjak 77,5% dari tahun sebelumnya menjadi 894.000 unit pada bulan Agustus 2026—sedikit melambat dibandingkan kenaikan 88,2% pada bulan sebelumnya—berdasarkan data yang dirilis oleh China Passenger Car Association pada Selasa (8/9/2026), yang dikutip Reuters.


Sementara, penjualan di pasar domestik turun 23,7% menjadi 1,55 juta kendaraan, memburuk dari penurunan sebesar 21,1% pada bulan Juli 2026.

Penjualan kendaraan listrik dan plug-in hybrid —yang mencakup 64,7% dari total penjualan domestik— menyusut 10,1% secara tahunan pada bulan Agustus, memperdalam penurunan sebesar 3,9% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan ekspor di segmen ini justru meningkat menjadi 154,7% dari 147,8% pada bulan Juli.

Baca Juga: Saham Apple Diprediksi Tertekan Saat iPhone 18 Meluncur, Kenaikan Harga Jadi Alasan

Di tengah berlanjutnya pelemahan di pasar otomotif terbesar dunia tersebut, produsen mobil China semakin gencar melakukan ekspansi ke luar negeri; BYD dan Geely Auto bahkan mencatatkan rekor ekspor baru pada bulan lalu.

Di tengah pengetatan pembatasan perdagangan, produsen mobil Tiongkok terus memperkuat posisi mereka di luar negeri, memperluas kehadiran di Eropa dan memikat pelanggan di pasar negara berkembang melalui model-model yang kaya fitur teknologi dengan harga kompetitif.

Menurut Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang Tiongkok (CPCA), ekspor kendaraan Tiongkok diprediksi mencapai 12 juta unit tahun ini. Ia memperkirakan angka ekspor tahunan akan terus meningkat hingga kisaran 18 juta hingga 20 juta unit pada tahun 2030.

Salah satu perusahaan yang membidik pasar luar negeri adalah Xiaomi. Pemain baru di industri kendaraan listrik (EV) yang sedang berupaya keras mencapai target penjualan tahunannya ini telah menandatangani kesepakatan dengan dealer mobil Jerman menjelang rencana peluncuran produknya di Eropa tahun depan.

Seres, yang mengembangkan mobil Aito bersama Huawei, menjadi contoh nyata besarnya risiko akibat tertinggal dalam persaingan ekspor.

Perusahaan ini menghadapi persaingan sengit di segmen EV premium Tiongkok yang sudah padat pemain, sementara langkah ekspansi luar negeri yang relatif terlambat menempatkan mereka pada posisi yang kurang menguntungkan di saat ekspor menjadi sumber pertumbuhan utama. Total penjualan kendaraan mereka anjlok 44% bulan lalu.

Lonjakan ekspor ini memicu kekhawatiran regulator bahwa persaingan sangat ketat yang mendera produsen mobil, pemasok, dan dealer di dalam negeri dapat merembet ke pasar luar negeri.

Baca Juga: Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak, Brent Bisa Tembus US$120

Pekan lalu, regulator Tiongkok menerbitkan pedoman baru bagi operasional luar negeri produsen mobil, yang memperingatkan agar tidak melakukan pemotongan harga secara sering atau drastis serta praktik-praktik lain yang tidak sesuai aturan yang dapat merugikan konsumen atau merusak reputasi merek.

Produsen mobil besar, termasuk BYD, Chery, dan Geely Holding, telah berkomitmen untuk mematuhi pedoman baru tersebut, meskipun regulator belum menetapkan sanksi spesifik bagi pelanggarannya.