KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (
INCO) mengungkap pasar ekspor untuk produk hilirisasi nikel mereka, yaitu nikel matte, untuk tahun 2026 masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan pasar di Jepang. Director & Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale, Budiawansyah, menyebut Jepang adalah pasar dengan long-term contract agreement Vale, dengan tujuan pengiriman ke Vale Japan Limited (VJL) dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd (SMM).
"Nickel-matte itu ke Vale Japan Limited, VGL yang di Jepang, nanti di VGL itu baru ada customer-customer-nya dia. Ada VGL dan juga ke Sumitomo," ungkap Budiawansyah dalam agenda temu media, dikutip Minggu (18/01/2026). Adapun, untuk penjualan bijih nikel, karena telah ada larangan ekspor bahan mentah nikel, Vale memfokuskan penjualan ore nikel mereka untuk keperluan domestik. "Kalau biji kita lelang. Enggak boleh ekspor. Lelang domestik," tambahnya.
Baca Juga: Vale (INCO) Pastikan Kebutuhan Smelter Sorowako 100% Terpenuhi Usai RKAB Terbit Budiawansyah menyebut sepanjang tahun 2025 harga ore nikel Vale cukup tinggi, hampir 40% lebih tinggi dari Harga Patokan Mineral (HPM) nikel yang ditetapkan Kementerian ESDM. "Tahun lalu kita dapat harga HPM premium. HPM plus premium. Premiumnya lumayan tinggi tuh. Hampir 40% lebih daripada harga HPM," ungkap dia. Sebelumnya, dalam catatan Kontan, Vale Indonesia (INCO) memastikan kepastian operasional dan keberlanjutan investasi usai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 resmi disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kamis (15/1/2026). Persetujuan tersebut menjadi landasan bagi emiten nikel anggota holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) ini untuk kembali mengoptimalkan kegiatan operasional maupun konstruksi di seluruh wilayah kerja, yakni Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi. Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto mengatakan, dengan perizinan yang telah lengkap, seluruh aktivitas perusahaan kini dapat berjalan normal, patuh, dan berkelanjutan.
“Dengan dasar perizinan yang lengkap, seluruh kegiatan kami kini berjalan kembali secara normal, patuh, dan berkelanjutan,” ujar Bernardus dalam keterangan resmi, Kamis (15/1/2026). Persetujuan RKAB 2026 ini juga menandai penerapan kembali mekanisme persetujuan tahunan oleh pemerintah, menggantikan skema RKAB tiga tahunan yang terintegrasi dengan perizinan dasar.
Sejalan dengan agenda pemerintah, perseroan juga melanjutkan investasi pada teknologi rendah emisi dan pengembangan fasilitas pengolahan lanjutan, termasuk proyek High Pressure Acid Leach (HPAL), untuk meningkatkan daya saing industri nikel nasional dalam rantai pasok global, khususnya untuk kebutuhan kendaraan listrik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News