KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) mendesak pemerintah segera menyusun roadmap hilirisasi sektor agro menyusul menguatnya kinerja ekspor komoditas pertanian. Langkah ini dinilai penting agar lonjakan ekspor tidak berhenti pada peningkatan volume penjualan, tetapi juga menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri. Wakil Kepala Kajian Iklim Bisnis dan Rantai Nilai Global LPEM UI, Christina Ruth Elisabeth, menilai sektor agro membutuhkan strategi hilirisasi yang berbeda dengan sektor pertambangan karena karakteristik dan dampak ekonominya jauh lebih inklusif.
"Roadmap penguatan daya saing industri agro harus disusun secara khusus, tidak bisa disamakan dengan sektor pertambangan," ujar Ruth.
Baca Juga: OJK Susun Roadmap PVML Syariah, Ditargetkan Terbit pada 2026 Desakan tersebut muncul setelah Menteri Perdagangan Budi Santoso melaporkan ekspor nonmigas Indonesia pada April 2026 tumbuh 13,66% secara bulanan, sementara ekspor migas justru turun 9,81%. Menurut Budi, kenaikan ekspor nonmigas terutama ditopang oleh lonjakan permintaan dari negara-negara mitra dagang utama. Beberapa komoditas dengan pertumbuhan ekspor tertinggi adalah kopi, teh, dan rempah-rempah yang naik 54,44%, serta tembakau dan rokok yang meningkat 43,49%. Di sisi lain, industri pengolahan tetap menjadi penyangga utama kinerja perdagangan Indonesia sepanjang Januari-April 2026. Ruth menilai momentum tersebut seharusnya dimanfaatkan pemerintah untuk mempercepat hilirisasi sektor agro. Berbeda dengan pertambangan, hilirisasi komoditas pertanian berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas, mulai dari meningkatkan penyerapan tenaga kerja, memperbesar pendapatan petani, hingga mendorong pemerataan pembangunan di berbagai daerah. Karena itu, ia menilai pendekatan hilirisasi berbasis mineral tidak bisa diterapkan sepenuhnya pada sektor pertanian yang memiliki karakteristik produksi dan rantai pasok berbeda.
Baca Juga: OJK Susun Roadmap Penjaminan 2024–2028, Ini Fasenya Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah memang telah menetapkan 15 komoditas prioritas hilirisasi, termasuk kelapa sawit, kelapa, dan rumput laut. Namun, sejumlah komoditas unggulan seperti kopi, teh, rempah-rempah, kakao, dan tembakau belum masuk dalam daftar tersebut, padahal memiliki kontribusi besar terhadap ekspor sekaligus peluang peningkatan nilai tambah melalui industri pengolahan. Menurut Ruth, beberapa komoditas sebenarnya telah menunjukkan kemajuan dalam hilirisasi. Industri kelapa sawit dan tembakau, misalnya, telah berhasil mengembangkan berbagai produk hilir yang mampu bersaing di pasar global. Sebaliknya, ekspor kopi dan kakao masih didominasi bahan baku maupun produk setengah jadi sehingga nilai tambah yang dinikmati di dalam negeri masih terbatas. Ia menambahkan, penguatan industri hilir akan mendorong masuknya investasi, memperluas kapasitas produksi, meningkatkan penyerapan hasil panen petani, sekaligus memperkuat kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan potensi sumber daya yang besar, Ruth menilai sektor agro masih memiliki ruang yang sangat luas untuk menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Baca Juga: Kadin Tanggapi Aturan Ekspor SDA Lewat BUMN, Minta Implementasi Transparan Namun, peluang tersebut hanya dapat dimaksimalkan apabila pemerintah segera menyiapkan roadmap hilirisasi yang komprehensif agar investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekspor dapat berlangsung secara berkelanjutan. Sumber:
https://money.kompas.com/read/2026/08/03/075316426/ekspor-kopi-hingga-rempah-melonjak-lpem-ui-usul-roadmap-hilirisasi-agro?page=all#page2. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News