Ekspor RI Januari–Mei 2026 Capai US$ 115,36 Miliar, Ditopang Industri Pengolahan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari–Mei 2026 tumbuh positif secara tahunan, ditopang oleh kenaikan ekspor nonmigas dan penguatan sektor industri pengolahan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan total nilai ekspor Indonesia pada periode Januari–Mei 2026 mencapai US$ 115,36 miliar, atau tumbuh 3,02% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 111,98 miliar.

"Nilai ekspor Januari–Mei 2026 tercatat US$ 115,36 miliar, naik 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun 2025," ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).


Baca Juga: Ditjen Pajak Bisa Lacak Omzet Pedagang Online yang Klaim Bebas PPh

Dari sisi komposisi, ekspor migas tercatat sebesar US$ 5,17 miliar atau turun 12,71% yoy. Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai US$ 110,19 miliar, tumbuh 3,89% yoy.

Ateng menjelaskan, peningkatan ekspor nonmigas terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan yang menjadi motor utama pertumbuhan ekspor sepanjang periode tersebut.

"Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama peningkatan kinerja ekspor nonmigas dengan andil sebesar 5,38%," jelasnya.

Menurutnya, peningkatan ekspor industri pengolahan terutama berasal dari produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, kimia dasar organik lainnya, serta semi-aluminium.

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok menjadi pasar utama ekspor Indonesia dengan nilai US$ 28,54 miliar pada Januari–Mei 2026, naik 17,68% yoy dibandingkan US$ 24,25 miliar pada periode tahun lalu.

Baca Juga: BPS: Inflasi Tertinggi Juni 2026 di Papua Pegunungan 7,84%, Terendah Sulawesi Barat

Selanjutnya, ekspor ke Amerika Serikat tercatat sebesar US$ 12,73 miliar, naik dari US$ 12,11 miliar pada periode Januari–Mei 2025. Ekspor ke kawasan ASEAN juga meningkat menjadi US$ 22,13 miliar dari sebelumnya US$ 21,48 miliar.

Ekspor ke Uni Eropa turut tumbuh menjadi US$ 7,99 miliar, dari US$ 7,76 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Namun demikian, ekspor ke negara lainnya tercatat menurun menjadi US$ 31,37 miliar dari sebelumnya US$ 33,18 miliar.

BPS mencatat, meskipun sebagian besar negara tujuan utama menunjukkan pertumbuhan, penurunan di sejumlah pasar lain menahan laju kenaikan ekspor secara lebih kuat pada awal 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News