Ekspor Sawit Agustus 2026 Naik 12,56%, Stok Indonesia Turun Jadi 2,21 Juta Ton



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat peningkatan konsumsi dan ekspor produk sawit Indonesia pada Agustus 2026. 

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menjelaskan bahwa kenaikan tersebut terjadi di tengah penurunan produksi secara bulanan, sehingga stok akhir minyak sawit Indonesia menyusut dibandingkan posisi Juli 2026.

Berdasarkan data GAPKI yang dirilis pada Jumat (9/10/2026), total ekspor produk sawit pada Agustus 2026 mencapai 3,59 juta ton, meningkat 12,56% dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 3,19 juta ton.


Baca Juga: JICT Perkuat Transformasi Pelabuhan, Kenang Perintis Era Kontainerisasi Tanjung Priok

Sementara itu, total konsumsi dalam negeri mencapai 2,30 juta ton, naik 1,28% dibandingkan Juli 2026 sebesar 2,28 juta ton. Di sisi lain, produksi gabungan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO) turun 0,50% menjadi 5,34 juta ton dari 5,37 juta ton pada bulan sebelumnya.

Dengan stok awal tahun sebesar 2,07 juta ton, produksi kumulatif Januari-Agustus 2026 sebesar 41 juta ton, konsumsi domestik 17,52 juta ton, ekspor 23,37 juta ton, serta impor 43.000 ton, stok akhir minyak sawit Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar 2,21 juta ton.

"Angka tersebut turun dibandingkan stok akhir Juli 2026 yang mencapai 2,76 juta ton. Namun, posisi stok Agustus masih lebih tinggi dibandingkan stok awal tahun ini," ujar Eddy dikantornya, Jumat (9/10).

Kenaikan ekspor pada Agustus 2026 terutama ditopang oleh produk olahan minyak sawit. GAPKI mencatat ekspor produk olahan minyak sawit meningkat 15,12% menjadi 2,64 juta ton, dibandingkan Juli 2026 sebesar 2,30 juta ton.

Ekspor CPO juga mengalami kenaikan signifikan, yakni 31,83% menjadi 329.000 ton dari 249.000 ton pada bulan sebelumnya. Sementara itu, ekspor produk olahan minyak inti sawit meningkat 14,58% menjadi 113.000 ton dari 99.000 ton.

Meski demikian, tidak semua produk sawit mencatatkan kenaikan ekspor. Ekspor oleokimia turun 6,74% menjadi 501.000 ton dari 537.000 ton pada Juli 2026. Ekspor CPKO juga turun 62,54% menjadi sekitar 3.000 ton dari 7.000 ton.

Secara kumulatif, total ekspor produk sawit Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 23,37 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 2,97% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 22,70 juta ton.

Dari sisi nilai, ekspor produk sawit pada Agustus 2026 mencapai US$ 4,29 miliar, naik 12,62% dibandingkan Juli 2026 sebesar US$ 3,81 miliar.

Adapun secara kumulatif, nilai ekspor produk sawit selama Januari-Agustus 2026 mencapai US$ 27,55 miliar, meningkat 11,14% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$ 24,78 miliar.

GAPKI menyebut peningkatan nilai ekspor kumulatif tersebut antara lain ditopang oleh harga yang relatif lebih baik pada 2026. Rata-rata harga ekspor CPO sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai US$ 1.140 per ton, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 1.075 per ton.

Meski demikian, secara bulanan rata-rata harga ekspor CPO pada Agustus 2026 justru turun tipis 0,34% menjadi US$ 1.164 per ton, dibandingkan Juli 2026 sebesar US$ 1.168 per ton.

"Berdasarkan negara tujuan, kenaikan ekspor produk sawit pada Agustus 2026 antara lain terjadi ke Pakistan, India, Rusia, Bangladesh, dan Malaysia," jelasnya.

Ekspor ke Pakistan meningkat 113% menjadi 265.000 ton. Pengiriman ke Rusia melonjak 250% menjadi 77.000 ton, sedangkan ekspor ke India naik 27% menjadi 89.000 ton.

Baca Juga: Sentul City (BKSL) Luncurkan Uptown Park, Siapkan 110 Hunian Premium di Sentul City

Selanjutnya, ekspor ke Bangladesh meningkat 48% menjadi 66.000 ton dan ke Malaysia naik 26% menjadi 38.000 ton.

Sebaliknya, ekspor ke Uni Eropa atau EU-27 mengalami penurunan 44% menjadi 160.000 ton. Pengiriman ke Amerika Serikat turun 14% menjadi 36.000 ton, sementara ekspor ke China turun 3% menjadi 19.000 ton. Ekspor ke kawasan Afrika juga menurun 3% menjadi 13.000 ton.

Jika dilihat secara kumulatif sepanjang Januari-Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ekspor ke China meningkat 24,7%, Rusia naik 11,5%, Malaysia tumbuh 7,8%, Bangladesh meningkat 6,2%, dan Afrika naik 3,8%.

Namun, sejumlah pasar utama masih mengalami penurunan. Ekspor ke India turun 20,2%, Amerika Serikat turun 3,9%, Pakistan turun 1,7%, sedangkan ekspor ke EU-27 terkoreksi 0,4% dibandingkan Januari-Agustus 2025.

Dari pasar domestik, konsumsi minyak sawit Indonesia pada Agustus 2026 meningkat menjadi 2,30 juta ton dari 2,28 juta ton pada Juli 2026. Kenaikan tersebut terutama berasal dari sektor biodiesel.

Konsumsi sawit untuk biodiesel mencapai 1,35 juta ton, meningkat 5,03% dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,29 juta ton.

Sebaliknya, konsumsi untuk pangan turun 3,79% menjadi 775.000 ton dari 805.000 ton pada Juli 2026. Konsumsi untuk oleokimia juga terkoreksi 2,70% menjadi 180.000 ton dari 185.000 ton.

Secara kumulatif, konsumsi domestik sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 17,52 juta ton, meningkat 6,81% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 16,41 juta ton.

Konsumsi biodiesel selama delapan bulan pertama 2026 mencapai 9,21 juta ton, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 8,34 juta ton. Sementara itu, konsumsi untuk pangan mencapai 6,87 juta ton dan oleokimia sebesar 1,44 juta ton.

Di sisi produksi, total produksi CPO dan PKO pada Agustus 2026 tercatat sebesar 5,34 juta ton, turun 0,50% dibandingkan Juli 2026 sebesar 5,37 juta ton.

Produksi CPO pada Agustus 2026 mencapai 4,88 juta ton, turun tipis dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 4,90 juta ton. Produksi PKO juga turun menjadi 464.000 ton dari 466.000 ton pada Juli 2026.

Namun, secara kumulatif produksi masih menunjukkan pertumbuhan. Total produksi CPO dan PKO sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 41 juta ton, meningkat 5,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 39,04 juta ton.

Produksi CPO secara kumulatif tercatat sebesar 37,45 juta ton, sedangkan produksi PKO mencapai 3,55 juta ton.

Dengan demikian, kinerja industri sawit Indonesia hingga Agustus 2026 menunjukkan peningkatan produksi dan konsumsi secara kumulatif, disertai pertumbuhan volume serta nilai ekspor. 

Sementara itu, pada Agustus 2026, kenaikan ekspor dan konsumsi domestik yang terjadi bersamaan dengan penurunan produksi bulanan diikuti penyusutan stok dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca Juga: Pelanggan Indihome Turun Jadi 9,5 Juta, Telkomsel Mengaku Fokus Benahi Kualitas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News