KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspor minyak sawit Indonesia diperkirakan menyusut pada 2027 karena kebutuhan dalam negeri untuk program biodiesel B50 meningkat, sementara produksi terancam terganggu fenomena El Nino. Kombinasi kedua faktor tersebut berpotensi memperketat pasokan minyak sawit dan menekan stok nasional. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan ekspor minyak sawit pada 2027 hanya mencapai 26,5 juta ton, turun 14,51% dibandingkan perkiraan tahun ini sebesar 31 juta ton.
Sekretaris Jenderal Gapki Hadi Sugeng mengatakan, produksi minyak sawit mentah atau
crude palm oil (CPO) pada 2027 diperkirakan mencapai 56,6 juta ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi produksi 2026 sebesar 58,8 juta ton, salah satunya akibat potensi gangguan produksi karena El Nino.
Baca Juga: Ekspor Sawit Indonesia Diprediksi Turun Jadi 26,5 Juta Ton pada 2027, Ini Pemicunya Di sisi lain, konsumsi minyak sawit domestik diperkirakan meningkat dari 27,11 juta ton pada 2026 menjadi 30 juta ton pada 2027. Kenaikan ini terutama didorong kebutuhan bahan baku biodiesel seiring penerapan program B50, yakni campuran 50% biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50% solar. Gapki memperkirakan konsumsi minyak sawit untuk biodiesel meningkat dari 14,7 juta ton pada 2026 menjadi 17,4 juta ton pada 2027. Peningkatan penyerapan di dalam negeri tersebut akan mengurangi volume minyak sawit yang tersedia untuk pasar ekspor jika tidak diimbangi kenaikan produksi. "Dengan B50 yang dimulai dari Januari, nantinya akan menggerus ekspor menjadi hanya 26,5 juta ton," kata Hadi dalam konferensi pers.
Baca Juga: IEU-CEPA Berlaku 2027, Ekspor Sawit Indonesia ke Eropa Bisa Makin Deras Sebagai perbandingan, kebutuhan CPO untuk program biodiesel B40 diperkirakan sekitar 12 juta ton hingga 13 juta ton. Sementara itu, kebutuhan untuk B50 meningkat menjadi sekitar 15,2 juta ton hingga 16,3 juta ton per tahun. Pemerintah meluncurkan program B50 pada Juli 2026, dengan implementasi penuh dimulai pada Oktober 2026. Menurut Hadi, tantangan industri sawit ke depan adalah memenuhi peningkatan kebutuhan biodiesel tanpa mengorbankan pasokan ekspor. Peningkatan produksi menjadi kunci agar kedua kebutuhan tersebut dapat dipenuhi secara bersamaan. "Idealnya, produksi tetap tinggi, ekspornya juga tinggi," ujar dia.
Baca Juga: B50 Butuh 18 Juta Ton CPO, Ekspor Sawit Indonesia Bisa Makin Menyusut Jika produksi tidak tumbuh sejalan dengan peningkatan konsumsi domestik, ekspor berpotensi menjadi penyeimbang yang menanggung tekanan pasokan. Kondisi ini juga dapat mengurangi daya saing industri sawit Indonesia dibandingkan negara produsen lainnya.
Stok sawit berpotensi di bawah level ideal
Tekanan pasokan juga tercermin dari proyeksi stok minyak sawit nasional. Gapki memperkirakan stok akhir pada 2027 hanya sekitar 2,7 juta ton, lebih rendah dibandingkan kisaran ideal sebesar 3,5 juta ton hingga 4 juta ton. Hadi mengatakan, terbatasnya pertumbuhan produksi menjadi salah satu faktor yang menyulitkan industri menjaga ketersediaan stok di tengah peningkatan kebutuhan domestik. Gapki mencatat produksi minyak sawit kumulatif pada Januari-Agustus 2026 mencapai sekitar 41 juta ton. Dalam periode yang sama, konsumsi domestik tercatat 17,52 juta ton dan ekspor mencapai 23,37 juta ton.
Baca Juga: Ekspor Sawit Indonesia Naik 12,56% pada Agustus 2026, Stok Menyusut Sementara itu, stok akhir minyak sawit Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 2,21 juta ton, turun dari 2,76 juta ton pada akhir Juli. Meski demikian, posisi tersebut masih lebih tinggi dibandingkan stok awal 2026 yang sebesar 2,07 juta ton. Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan, pelaku industri juga perlu mencermati perubahan kondisi ekonomi dan geopolitik global yang dapat memengaruhi perdagangan serta kebijakan di pasar sawit. Untuk membahas tantangan tersebut, Gapki akan menggelar The 22nd Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2026 di Bali pada 11-13 November 2026. Konferensi ini akan membahas peluang, tantangan, serta prospek industri sawit pada 2027. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News