KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja ekspor udang Indonesia ke pasar Amerika Serikat (AS) dinilai masih menghadapi tekanan pada awal tahun ini. Meskipun, akses ekspor Tanah Air telah kembali terbuka pasca kasus temuan zat Cesium-137 pada tahun lalu. Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI) Andi Tamsil mengatakan, pada kuartal I-2026, impor atau pembelian udang AS menurun 11% secara tahunan. "Ini menunjukkan konsumsi dan daya beli AS mengalami penurunan,” ujar Tamsil kepada Kontan, Senin (25/5).
Selain lemahnya daya beli di AS, Tamsil mencermati persaingan ketat dari negara produsen lain juga membayangi prospek pasar udang nasional. “Pesaing kita, Ecuador dan India agresif untuk masuk ke pasar AS, sehingga pangsa pasar Indonesia terancam menurun,” lanjutnya.
Baca Juga: Indonesia Kembali Genjot Ekspor Udang ke AS Setelah Lolos Sertifikasi Radioaktif Di sisi lain, SCI menilai persoalan harga juga menjadi tantangan utama bagi eksportir udang nasional. Tamsil melihat bahwa pembeli (buyer) AS saat ini cenderung mencari produk dengan harga murah. Sementara, harga udang di tingkat petambak Indonesia saat ini masih relatif tinggi. “US buyer menginginkan harga yang murah. Harga udang Indonesia di tingkat global menjadi kurang kompetitif,” katanya. Dengan strategi ini, SCI berharap pemerintah dapat lebih fokus mendorong daya saing industri udang nasional melalui strategi yang lebih komprehensif.
Baca Juga: Pengusaha Siap Patuhi Sertifikasi Bebas Cs-137 demi Jaga Kelancaran Ekspor Udang Dari sisi petambak udang, menurut Tamsil, ada beberapa aspek yang perlu menjadi perhatian pemerintah. Pertama, kemudahan dan konsistensi perizinan di seluruh wilayah Indonesia. Kedua, pemberian insentif fiskal maupun non-fiskal guna meningkatkan investasi baik di tingkat tambak maupun pengolahan (processing). Selain itu, SCI juga menilai perlunya penguatan branding udang Indonesia di pasar global agar mampu bersaing dengan negara eksportir lain.
SCI juga mengingatkan agar pemerintah lebih berfokus sebagai regulator dan penyokong investasi alih-alih menjadi pelaku usaha. “Pemerintah jangan menjadi pesaing pelaku usaha dengan menjadi pemain, melainkan fokus ke regulasi yang baik dan mendukung investasi,” tutup Tamsil.
Baca Juga: Menteri KKP Akui Sempat Khawatir Jika Ekspor Udang Diblokir AS Imbas Isu Cs-137 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News