El Nino Ancam Petani Cabai, Benih Tahan Penyakit Jadi Solusi




KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perubahan iklim ekstrem, khususnya kemarau panjang akibat El Nino, menjadi tantangan serius bagi sektor hortikultura karena memicu kekeringan, meningkatkan serangan hama dan penyakit, serta menurunkan produktivitas cabai.

Menghadapi perubahan iklim dan ancaman gagal panen, penggunaan benih unggul tahan penyakit menjadi salah satu strategi untuk menekan risiko kerugian petani. Salah satunya, cabai keriting hibrida Laba TAVI F1 dari PT East West Seed Indonesia (EWINDO), yang dikembangkan untuk menghadapi sejumlah penyakit utama, yakni layu bakteri (Ralstonia solanacearum), busuk batang atau akar (Phytophthora capsici), serta infeksi virus.

Selain memiliki ketahanan terhadap penyakit, Laba TAVI F1 memiliki bobot buah rata-rata 8 gram dengan potensi hasil panen 18–23 ton per hektare. Ketahanan genetiknya diharapkan membantu menjaga produktivitas tanaman di tengah suhu tinggi dan keterbatasan air.


Baca Juga: Ewindo Perkuat Sinergi dengan Petani di Nagara Kalimantan Selatan

General Manager Commercial EWINDO Budi Hariyono mengatakan, pengembangan varietas ini merupakan hasil riset pemuliaan tanaman yang disesuaikan dengan kondisi agroklimat Indonesia. “Inovasi benih tersebut ditujukan untuk membantu petani menghadapi kemarau panjang, menjaga produktivitas, serta menekan biaya usaha tani,” kata Budi dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

Untuk memastikan pemanfaatan inovasi ini, Ewindo juga secara masif memberikan edukasi kepada petani untuk menggunakan benih berkualitas unggul, efisiensi irigasi, dan manajemen pola tanam yang tepat yang terbukti menjadi formula efektif untuk menekan tingkat kerugian akibat ancaman kemarau panjang. Pengalaman penggunaan varietas unggul di lapangan juga menjadi salah satu referensi bagi petani dalam menghadapi tantangan budidaya. 

Sawal, salah satu petani cabai asal Jawa Tengah yang mengalami gagal panen akibat tanaman cabainya sebagian besar mati. Tanaman yang mengalami stres kekeringan memiliki daya tahan yang relatif lemah, sehingga rentan terhadap serangan penyakit. 

Baca Juga: Ewindo Dukung Program Urban Farming di Jakarta

Ia bilang, hasil panen cabai pun dapat turun drastis hingga lebih dari 50% , bahkan tidak sedikit yang mengalami gagal panen total. “Akibat tidak ada hujan kami gagal panen. Ada Sebagian kecil tanaman yang bisa dipanen tapi itu pun hasilnya tidak bagus,” katanya. 

Sementara, Jowo,  petani cabai, salah satu yang sudah menggunakan varietas Laba TAVI F1, khususnya terkait performa tanaman dan hasil panen di tengah kondisi cuaca yang menantang

Jowo mengatakan Laba TAVI F1 memiliki performa tanaman yang baik. Menurut dia, ketahanan terhadap penyakit menjadi salah satu pertimbangan penting dalam memilih varietas cabai, terutama di tengah cuaca yang tidak menentu. “Dengan varietas yang tepat dan perawatan yang baik, kami berharap produktivitas tetap terjaga dan hasil panen lebih optimal,” ujar Agus.

Selain mengembangkan benih unggul, PT East West Seed Indonesia (EWINDO) juga menggelar edukasi budidaya kepada petani. Salah satunya berlangsung di Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dengan melibatkan sekitar 230 petani dari Kabupaten Simalungun, Batubara, dan Deli Serdang.

Edukasi serupa dilakukan di sejumlah sentra cabai nasional untuk mendorong penerapan teknologi benih, efisiensi irigasi, dan pengelolaan pola tanam. Upaya ini diharapkan membantu menjaga produktivitas cabai sekaligus mendukung keberlanjutan usaha tani di tengah perubahan iklim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News