KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ancaman El Nino makin berat hingga awal 2027 dan mulai membayangi kinerja emiten barang konsumsi. Fenomena cuaca tersebut berpotensi mengerek harga bahan baku seperti kopi, gula, kakao, dan crude palm oil (CPO), sehingga menekan margin keuntungan atau gross profit margin (GPM) perusahaan consumer staples pada semester I-2027. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperkirakan El Nino 2026 dapat bertahan hingga awal 2027 dengan intensitas mencapai kategori kuat. Pada akhir Juni, indeks Niño 3.4 bahkan tercatat 1,56, telah melewati ambang kategori kuat. Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra dalam riset 17 September 2026 mengatakan, El Nino secara historis berdampak negatif terhadap produksi sejumlah komoditas pertanian, termasuk CPO, kopi, kakao, dan gula. “El Nino berpotensi menekan gross profit margin perusahaan consumer staples pada semester I-2027 dan baru mulai pulih pada semester II tahun 2027,” tulis Andrianto dalam riset tersebut.
Baca Juga: UPDATE: Wall Street Tergelincir Jumat (18/9), Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 4,99% Menurut dia, BMKG memperkirakan El Nino yang berkembang sejak Juni 2026 akan mencapai puncak intensitas pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Levelnya berpotensi mendekati El Nino yang terjadi pada November 2015 hingga Januari 2016. Dampaknya terhadap industri barang konsumsi berpotensi berlangsung lebih lama dari periode fenomena El Nino itu sendiri. Sebab, produksi sejumlah komoditas lunak seperti kopi, kakao dan gula secara historis membutuhkan waktu sekitar 6–12 bulan untuk pulih setelah terjadi El Nino. Indo Premier menilai PT Mayora Indah Tbk (
MYOR) menjadi emiten consumer staples yang paling berpotensi terdampak kenaikan harga bahan baku akibat El Nino. Selain MYOR, sejumlah emiten yang masuk cakupan Indo Premier dan memiliki eksposur terhadap komoditas tersebut adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (
ICBP), PT Unilever Indonesia Tbk (
UNVR), dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (
CMRY). Berdasarkan analisis Indo Premier, bahan baku terkait komoditas tersebut menyumbang masing-masing sekitar 36% dari COGS MYOR, 19% ICBP, 10% UNVR, dan 5% CMRY. Dengan asumsi perusahaan tidak meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada konsumen, Indo Premier menghitung kenaikan harga kopi, gula, kakao dan CPO sebesar 5% berpotensi memangkas laba bersih FY2027 masing-masing sekitar 11,7% untuk MYOR, 3,8% ICBP, 1,6% UNVR, dan 0,6% CMRY. Risiko terbesar berada di MYOR karena tingginya porsi bahan baku yang sensitif terhadap harga komoditas tersebut dalam struktur biaya produksinya. Meski demikian, Andrianto memperkirakan perusahaan consumer staples akan berupaya meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada konsumen. Berdasarkan percakapan Indo Premier dengan sejumlah perusahaan consumer staples, emiten-emiten tersebut berniat melakukan full pass-through atas kenaikan biaya bahan baku. Artinya, kenaikan harga jual produk akan digunakan untuk mengompensasi tekanan biaya produksi. MYOR, misalnya berupaya mengurangi jumlah hari persediaan di distributor. Perusahaan diperkirakan dapat meneruskan kenaikan biaya dengan melakukan regrammage atau reformulasi produk, sehingga jeda antara kenaikan biaya bahan baku dan penyesuaian harga dapat dipersingkat. Namun, strategi tersebut memiliki konsekuensi. Jika kenaikan harga bahan baku terlalu tinggi dan sepenuhnya diteruskan ke harga jual, volume penjualan berisiko ikut tertekan.
Baca Juga: Rilis Dua Regulasi Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, Pengawasan Beralih ke OJK Andrianto mengacu pada pengalaman 2022 ketika perusahaan consumer staples melakukan kenaikan harga jual yang agresif akibat tekanan biaya. Saat itu, rata-rata kenaikan harga mencapai sekitar 16% secara tahunan. Setelah kenaikan harga tersebut, pertumbuhan pendapatan agregat sektor domestik melambat menjadi hanya 1,2% yoy pada tahun 2023, dibandingkan 10% yoy pada 2022. Karena itu, Indo Premier memperkirakan kenaikan average selling price (ASP) pada semester I-2027 kemungkinan tidak akan seagresif 2022. Salah satu alasannya adalah kondisi GPM perusahaan consumer staples pada semester I-2026 masih relatif sehat dan sesuai dengan panduan masing-masing perusahaan. Pada semester I-2022, sebagai pembanding, GPM sektor berada dalam tekanan lebih besar dengan penurunan sekitar 419 basis poin secara tahunan, sehingga mendorong perusahaan melakukan kenaikan harga yang lebih signifikan. Di tengah ancaman tersebut, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dinilai memiliki eksposur yang relatif lebih rendah terhadap dampak El Nino. Indo Premier mencatat sekitar 65% bahan baku KLBF berasal dari komponen berbasis minyak, terutama active pharmaceutical ingredients (API) dan material kemasan. Dengan struktur bahan baku tersebut, KLBF tidak terlalu terpapar langsung terhadap kenaikan harga komoditas pertanian seperti kopi, gula, kakao maupun CPO. Berdasarkan pembicaraan dengan manajemen KLBF, harga API juga belum menunjukkan kenaikan material di luar kenaikan yang telah terjadi pada kuartal II-2026. Dengan demikian, Indo Premier memperkirakan profil GPM KLBF akan tetap mendekati level kuartal II-2026. Dari sisi valuasi, Indo Premier melihat tekanan akibat El Nino justru terjadi ketika valuasi sektor consumer staples sudah berada pada level relatif rendah. Sektor consumer staples diperdagangkan pada sekitar 9,5 kali forward price to earnings (PE) tahun 2026, atau sekitar 2 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun. Level tersebut bahkan berada di bawah valuasi pada masa Covid-19. Baca Juga:
Fitch Pangkas Rating Pos Indonesia Jadi RD (idn) Usai Gagal Bayar Sukuk Untuk positioning investor, Indo Premier mencatat investor lokal sudah memiliki eksposur yang cukup besar terhadap sektor tersebut. Karena itu, potensi tambahan pembelian saham sektor consumer staples dinilai lebih mungkin datang dari investor asing. Indo Premier mempertahankan rekomendasi Overweight (OW) untuk sektor consumer staples. Dalam urutan preferensi berdasarkan riset tersebut, KLBF, CMRY, ICBP, MYOR, UNVR, dan SIDO.
Saham KLBF, CMRY, ICBP, MYOR diberi rekomendasi beli oleh Indo Premier Sekuritas. Sedangkan saham UNVR dan SIDO disarankan untuk hold. Saham KLBF dipasang target harga Rp 1.300, CMRY di Rp 6.000, ICBP ditargetkan di harga Rp 12.600 dan MYOR dipasang target Rp 2.750 per saham. Untuk UNVR dan SIDO masing-masing dipasang target Rp 2.100 dan Rp 370 per saham. Risiko terhadap pandangan tersebut antara lain jika harga bahan baku bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan serta daya beli masyarakat melemah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News