El Nino Mengintai di 2026, Begini Strategi Pelaku Industri Sektor Pertanian Hadapi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha di sektor pertanian mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan menguat pada 2026.

Sebelumnya, dalam rilis yang disiarkan pada Senin (29/6/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor untuk meminimalkan risiko kekeringan, gangguan produksi pangan, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan El Nino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98%. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.


Baca Juga: Harga LNG Turun, Industri Baja Minta Pasokan HGBT Tetap Terjaga demi Daya Saing

BMKG memperkirakan El Nino berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan. Meski demikian, Faisal menegaskan kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.

Menurutnya, yang perlu diwaspadai adalah ketika El Nino bertepatan dengan musim kemarau karena pada periode tersebut curah hujan cenderung lebih rendah dibandingkan kondisi normal.

"Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan," ujar Faisal.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan pelaku usaha sawit telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, terutama untuk mencegah kebakaran lahan.

"Gapki selalu melakukan apel siaga sebelum El Nino terjadi. Ini untuk memastikan kesiapan anggota dalam menghadapi El Nino," kata Eddy kepada Kontan, Selasa (30/6).

Eddy memperkirakan dampak El Nino terhadap industri sawit tidak akan langsung terasa pada tahun ini, melainkan baru tercermin pada produksi satu hingga dua tahun mendatang.

Menurut dia, dampak jangka pendek yang mungkin terjadi adalah keterlambatan panen, selama tidak terjadi kebakaran di area perkebunan. "Untuk dampak El Nino akan terasa di tahun 2027 dan 2028," ujarnya.

Baca Juga: Mandatori B50 Berlaku Rabu (1/7), Serapan CPO Domestik Diproyeksi Melonjak

Ia menambahkan, apabila El Nino berlangsung lebih panjang, produksi sawit berpotensi mengalami penurunan. Namun, besarnya penurunan akan bergantung pada kondisi pemeliharaan tanaman di masing-masing kebun.

Karena itu, Gapki berharap sosialisasi kepada masyarakat terus ditingkatkan agar risiko kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan selama periode El Nino.

Sementara itu, Ketua DPP Persatuan Perusahaan Penggilingan Padi (Perpadi) Jawa Tengah, Riyanto Joko Nugroho, menilai potensi dampak El Nino terhadap produksi padi tahun ini relatif terbatas. Menurutnya, stok beras yang dikelola Bulog saat ini mencapai 5 juta ton, sehingga dampak El Nino terhadap pasokan beras diperkirakan tidak akan terlalu signifikan.

"Kita melihat posisi stok Bulog saat ini aman, berbeda dengan 2023 yang stoknya kurang," ujar Riyanto kepada Kontan saat dihubungi terpisah.

Riyanto menilai kondisi tersebut berbeda dibandingkan saat El Nino pada 2023, ketika stok beras pemerintah lebih rendah. Selain itu, ia menilai Indonesia juga belum pernah mengalami kekeringan yang menyebabkan kerugian besar terhadap produksi padi.

Meski demikian, Riyanto memperkirakan musim panen tahun ini berpotensi mengalami keterlambatan sekitar satu bulan imbas fenomena El Nino.

Baca Juga: Harga BBM Non Subsidi Turun Juli? Ini Jawaban Bahlil Lahadalia

"Tahun ini panen yang biasanya Oktober kemungkinan mundur menjadi November," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News