KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketersediaan air untuk lahan pertanian mulai menipis di sejumlah daerah seiring berlangsungnya musim kemarau dan dampak fenomena El Niño. Kondisi ini mendorong sebagian petani menunda penanaman, sementara tanaman padi yang telah ditanam mulai menghadapi risiko kekurangan air hingga gagal panen. Ketua Pusat Perbenihan Serikat Petani Indonesia (SPI) Kusnan mengatakan, kondisi tersebut terutama terjadi di wilayah yang mengandalkan sawah tadah hujan serta lahan yang berada di ujung saluran irigasi. “Dampak El Niño dan musim kemarau saat ini sudah mulai dirasakan secara nyata oleh para petani di berbagai daerah,” ujar Kusnan kepada Kontan, Rabu (12/8/2026).
Menurut dia, sejumlah sumber air seperti sungai kecil dan embung desa mulai mengalami penyusutan debit yang signifikan. Kondisi tersebut membuat petani kesulitan memperoleh air untuk mengolah lahan sehingga jadwal tanam harus ditunda. Sementara itu, pada lahan yang sudah terlanjur ditanami padi berusia sekitar satu hingga empat minggu, mulai ditemukan tanah yang retak akibat kekurangan air.
Baca Juga: Pemerintah Kaji Pembatasan Pertalite untuk Masyarakat Desil 9 dan 10 Kusnan memperingatkan, apabila dalam dua hingga tiga minggu ke depan lahan tersebut tidak mendapatkan pasokan air yang cukup, risiko tanaman mengalami gagal panen atau puso akan semakin tinggi. “Padi sawah merupakan komoditas yang paling rentan karena membutuhkan konsumsi air yang tinggi, terutama pada fase vegetatif dan pembentukan bulir,” jelasnya. Tak hanya padi, kondisi kekeringan juga berpotensi menekan produksi jagung. Meski relatif lebih tahan terhadap kekeringan dibandingkan padi, jagung tetap membutuhkan kelembapan tanah yang cukup, khususnya pada fase awal pertumbuhan dan pembuahan. Selain tanaman pangan, komoditas hortikultura seperti cabai, bawang merah, dan berbagai jenis sayuran juga berpotensi terdampak. Fluktuasi ketersediaan air dan peningkatan suhu dapat menurunkan kualitas hasil panen sekaligus meningkatkan risiko serangan hama, seperti thrips dan tungau. Untuk meminimalisir dampak kekeringan, Kusnan mendorong pemerintah memperkuat manajemen dan distribusi air di tingkat petani. Salah satunya melalui penerapan sistem gilir air pada jaringan irigasi serta optimalisasi pompanisasi dari sumber air yang masih tersedia. Di wilayah yang mengalami keterbatasan air, petani juga dinilai perlu menyesuaikan pola tanam dengan beralih sementara dari padi ke komoditas palawija yang lebih hemat air, seperti kedelai, kacang hijau, atau sorgum.
Baca Juga: BI: Pembiayaan Perbankan Syariah Capai Rp 720 Triliun pada Juni 2026 Selain itu, penggunaan kompos, pupuk hayati, dan mulsa organik juga dapat diperluas. Menurut Kusnan, bahan organik dapat membantu tanah menyimpan air lebih lama sehingga tanaman lebih mampu menghadapi kondisi kering. Kusnan juga meminta adanya perbaikan infrastruktur irigasi, termasuk pengerukan sedimen pada saluran yang tersumbat dan pembangunan embung darurat di titik-titik yang menjadi sentra produksi pangan. Di sisi lain, pendataan lahan yang terdampak kekeringan perlu dilakukan secara intensif oleh pemerintah daerah. Langkah tersebut penting untuk mempercepat penyaluran bantuan berupa pompa, benih yang lebih tahan kekeringan, hingga aktivasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bagi lahan yang berpotensi mengalami gagal panen. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News