El nino, World Bank perkirakan inflasi 2015 6,5%



JAKARTA. Musim kering (El Nino) di sejumlah daerah di Indonesia mengancam pasokan pangan. Ini berpotensi menaikan harga pangan sehingga berimbas pada inflasi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Nino menguat mulai Agustus lalu hingga Desember 2015.

Bank Dunia (World Bank) melihat dampak El Nino cukup besar terhadap inflasi tahun ini. Alhasil  World Bank memproyeksikan rata-rata inflasi tahunan  2015 bisa mencapai 6,5%.


Ekonom Utama World Bank Ndiame Diop menyatakan, El Nino akan mempengaruhi kondisi bahan makanan, khususnya harga beras. Pada kondisi El Nino yang moderat hingga kuat,  harga beras melonjak  hingga 10% per tahun.

Kekeringan juga bisa menyumbang inflasi tahunan sebesar 0,3%-0,6% dan laju inflasi rumah tangga miskin naik hingga 1%-2%.

"Masyarakat miskin yang sebagian besar penghasilannya untuk konsumsi makanan akan terkena dampak lebih besar," kata Diop, pekan lalu.

Ini sejalan dengan hasil survei indeks indeks ekspektasi harga (IEH) Bank Indonesia awal Oktober yang menunjukan tekanan kenaikan harga terjadi mulai Desember 2015. Indikasinya dari IEH tiga bulan mendatang yang naik 9,5 poin menjadi 164,5.

Tekanan itu terjadi pada semua kelompok komoditas. Lonjakan tertinggi terjadi di kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau.

Sejak Januari 2015 hingga September 2015, inflasi tahunan berkisar pada angka 6%-7%.

Inflasi tahunan tertinggi tercatat pada bulan Juni dan Juli 2016 masing-masing sebesar 7,26%. Jika dihitung, Januari hingga September 2015, rata-rata inflasi tahunan 6,9%.

Meski begitu, BI bilang fundamental ekonomi Indonesia membaik.

Otoritas moneter itu masih optimistis inflasi akhir tahun 2015 di bawah  4%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 4,2%. "Akan di kisaran 3,6%," kata Gubernur BI Agus Martowardojo.

Hasil survei BI di minggu II  Oktober 2015, IHK tercatat terjadi deflasi 0,09% akibat deflasi bahan makanan seperti daging ayam dan bawang merah serta harga yang diatur (administered prices), yaitu penundaan kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) Rumah Tangga 1.300 Volt Ampere (VA) dan 2.200 VA.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News