KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten transportasi mulai mendorong penggunaan kendaraan listrik dan hybrid untuk meningkatkan efisiensi operasional. PT Blue Bird Tbk (BIRD) mengembangkan layanan Bluebird Prime dengan kendaraan BYD E6 dan Innova Zenix Hybrid, sementara PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) mulai mengimplementasikan kendaraan listrik Farizon SuperVan untuk layanan DayTrans. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, penggunaan kendaraan listrik dan hybrid berpotensi menekan biaya operasional melalui konsumsi energi yang lebih rendah, efisiensi penggunaan BBM, serta biaya perawatan yang relatif lebih rendah. Namun, besarnya penghematan tetap bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari tingkat utilisasi armada, tarif listrik, harga BBM, biaya perawatan, depresiasi, hingga investasi awal kendaraan dan infrastruktur pengisian daya.
"Pada WEHA, penggunaan EV untuk DayTrans berpotensi memberikan efisiensi biaya operasional sekitar 10%. Jika kendaraan tersebut ditempatkan pada rute dengan utilisasi tinggi, penghematan tersebut dapat memberikan kontribusi langsung terhadap perbaikan margin," kata Nafan kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga: Cek Prospek Emiten Transportasi & Logistik yang Bisa Terdampak Keterbatasan Mobilitas Sementara bagi BIRD, dampak elektrifikasi diperkirakan berlangsung lebih bertahap mengingat skala armada yang besar dan proses elektrifikasi yang dilakukan secara gradual. Seiring bertambahnya kendaraan listrik dan hybrid dalam armada, efisiensi biaya energi dan perawatan berpotensi menjadi salah satu penopang profitabilitas dalam jangka menengah. Selain efisiensi biaya, BIRD memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan per armada melalui pengembangan Bluebird Prime. Menurut Nafan, penggunaan kendaraan seperti BYD E6 dan Innova Zenix Hybrid dalam layanan tersebut memungkinkan BIRD menawarkan positioning dan tarif yang lebih premium dibandingkan dengan layanan reguler. Dengan demikian, BIRD tidak hanya memperoleh manfaat dari efisiensi kendaraan elektrifikasi, tetapi juga memiliki peluang meningkatkan yield atau pendapatan per perjalanan melalui layanan premium. Sementara WEHA lebih mengandalkan efisiensi biaya kendaraan listrik untuk memperkuat margin. "Apabila pertumbuhan volume penumpang dan utilisasi kendaraan tetap kuat, penghematan biaya energi dapat memberikan operating leverage yang semakin besar," ujar Nafan. Hingga 2027, BIRD dinilai memiliki kombinasi penggerak pertumbuhan berupa peningkatan volume, pendapatan per armada, serta efisiensi biaya. Adapun WEHA lebih menitikberatkan pada pertumbuhan volume dan optimalisasi biaya operasional. Nafan menilai ekspansi pasar dan peningkatan pendapatan per armada BIRD berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap kinerja secara absolut karena skala bisnis dan armadanya lebih besar. Namun, dari sisi margin, strategi efisiensi WEHA juga dapat memberikan dampak signifikan apabila penghematan kendaraan listrik dapat direalisasikan secara konsisten. "Hingga akhir 2026, prospek BIRD masih cukup ditopang oleh pertumbuhan mobilitas masyarakat, ekspansi armada, digitalisasi, pengembangan layanan premium, dan peningkatan utilisasi kendaraan," jelasnya. Memasuki 2027, katalis BIRD antara lain peningkatan penetrasi kendaraan listrik dan hybrid, pertumbuhan Bluebird Prime, ekspansi bisnis non-taksi, serta peningkatan produktivitas armada. Sementara WEHA akan ditopang oleh pertumbuhan DayTrans, ekspansi jaringan shuttle, penambahan armada, dan implementasi kendaraan listrik. Di sisi lain, risiko yang perlu dicermati mencakup tingginya belanja modal awal kendaraan listrik, biaya pendanaan dan depresiasi, persaingan tarif dengan platform ride-hailing, hingga risiko utilisasi armada yang tidak optimal. Penghematan aktual kendaraan listrik yang lebih rendah dari ekspektasi juga menjadi tantangan.
Baca Juga: WEHA Tebar Dividen Rp 8,76 Miliar, Bidik Pertumbuhan Kinerja 8% pada 2026 Menurut Nafan, 2026 dapat menjadi fase pembuktian keekonomian kendaraan listrik dan hybrid. Sementara pada 2027, manfaat efisiensi biaya dan peningkatan pendapatan per armada berpotensi semakin terlihat pada margin dan profitabilitas perusahaan. Secara keseluruhan, Nafan memberikan rekomendasi wait and see untuk saham BIRD dan WEHA. Senada, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan kendaraan listrik dan hybrid berpotensi menekan biaya BBM serta biaya perawatan. Ia juga menilai BIRD memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan per armada melalui Bluebird Prime dan tingkat utilisasi yang tinggi, sedangkan WEHA lebih mengandalkan efisiensi kendaraan listrik untuk memperbaiki margin.
"Prospek BIRD hingga 2027 ditopang ekspansi armada, peningkatan utilisasi, Bluebird Prime, dan segmen non-taxi. Untuk WEHA, pemulihan akan bergantung pada pertumbuhan penumpang, utilisasi armada, dan elektrifikasi DayTrans," kata Abdul Azis. Untuk saham BIRD, Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi trading buy dengan target harga Rp1.670 per saham. Sementara itu, risiko utama bagi kedua emiten yang perlu dicermati mencakup capex, persaingan, dan tekanan margin.
Baca Juga: Pendapatan BIRD Tumbuh 11,3% pada Semester I-2026, Ditopang Bisnis Taksi dan Shuttle Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News