Elon Musk Pasang Target Besar, SpaceX Targetkan Peluncuran 10.000 Roket Tiap Tahun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, menargetkan peningkatan besar-besaran frekuensi peluncuran roket hingga mencapai 10.000 peluncuran per tahun dalam lima tahun ke depan. Namun, otoritas penerbangan Amerika Serikat menegaskan bahwa target ambisius tersebut hanya dapat disetujui jika tingkat keandalan peluncuran meningkat signifikan.

Administrator Federal Aviation Administration (FAA), Bryan Bedford, mengungkapkan bahwa dirinya telah bertemu dengan Presiden SpaceX, Gwynne Shotwell, untuk membahas visi jangka panjang perusahaan.

Dalam pertemuan tersebut, Shotwell menyampaikan target SpaceX untuk mencapai 10.000 peluncuran setiap tahun dalam lima tahun mendatang. Sebagai perbandingan, SpaceX tercatat melakukan sekitar 170 peluncuran sepanjang 2025 dengan menempatkan sekitar 2.500 satelit ke orbit.


Bedford mengatakan FAA memahami ambisi besar perusahaan antariksa swasta tersebut, namun regulator membutuhkan jaminan keselamatan dan reliabilitas yang lebih tinggi sebelum memberikan izin ekspansi.

Baca Juga: Ekspor Jepang Naik 8 Bulan Beruntun pada April, Meski Terganggu Konflik Timur Tengah

“Kami perlu melihat jauh lebih banyak reliabilitas,” ujar Bedford kepada wartawan usai sebuah forum di Arlington, Virginia, Rabu (20/5/2026).

FAA sendiri merupakan lembaga yang bertanggung jawab memberikan lisensi seluruh peluncuran antariksa komersial di Amerika Serikat. Selain itu, FAA juga mengatur pembatasan tertentu agar aktivitas peluncuran maupun potensi kecelakaan antariksa tidak mengganggu lalu lintas penerbangan sipil.

Bedford menjelaskan, pembicaraannya dengan SpaceX juga membahas berbagai kendala operasional dan langkah perencanaan yang perlu dilakukan sejak sekarang agar target ekspansi besar tersebut dapat diakomodasi di masa depan.

Menurut Bedford, pemerintah AS dan industri antariksa perlu bekerja sama untuk mempercepat inovasi, terutama di tengah target Presiden Donald Trump yang ingin membawa kembali manusia ke bulan sebelum 2028.

“Untuk mencapai itu, kami harus bekerja sama dengan industri guna membuka jalan bagi inovasi,” kata Bedford.

Ia juga menilai FAA saat ini belum menjadi hambatan utama dalam aktivitas peluncuran antariksa. Namun, ke depan kondisi tersebut bisa berubah apabila pendanaan bagi tim antariksa FAA tidak ditingkatkan.

Baca Juga: Singtel Raup Laba Lebih Tinggi, Volatilitas Energi dan Mata Uang Jadi Ancaman

“Saya bisa melihat masa depan di mana kami menjadi faktor pembatas karena kami tidak memberikan pendanaan yang cukup kepada tim antariksa kami,” ujarnya.

FAA saat ini tengah meninjau data dari berbagai peluncuran sebelumnya guna memahami risiko yang mungkin muncul. Dalam beberapa kasus, FAA harus menutup sebagian wilayah udara selama proses peluncuran berlangsung demi alasan keselamatan. Langkah tersebut dinilai dapat mengganggu aktivitas penerbangan komersial.

Sementara itu, CEO SpaceX, Elon Musk, dalam wawancara video dengan Forbes pekan ini mengatakan bahwa SpaceX telah memiliki sekitar 10.000 satelit di orbit. Ke depan, perusahaan juga ingin meluncurkan hingga 10.000 satelit komunikasi per tahun, meski belum mengungkapkan jadwal pasti pencapaiannya.

Pada Januari lalu, SpaceX juga mengungkap rencana membangun konstelasi hingga 1 juta satelit yang akan mengorbit Bumi dan memanfaatkan energi matahari untuk mendukung pusat data kecerdasan buatan (AI).