Elon Musk: Pesaing Tesla di China Bekerja Sangat Keras dan Cerdas



KONTAN.CO.ID - CEO Tesla, Elon Musk, menyadari bahwa pesaing terberat Tesla tidak datang dari Amerika Serikat atau Eropa, melainkan China. Musk bahkan memprediksi pabrikan China akan menjadi yang nomor dua setelah Tesla dalam arena persaingan mobil listrik.

"Mereka bekerja paling keras dan mereka bekerja paling cerdas. Jadi kami menduga, mungkin ada beberapa perusahaan di China yang paling mungkin menjadi yang kedua setelah Tesla," ungkap Musk melalui laporan keuangan perusahaan yang dirilis hari Rabu (25/1).

Terkait persaingan Tesla, Musk mengatakan bahwa dia menghormati perusahaan mobil di China dan menyebutnya sebagai pasar paling kompetitif di dunia.


Baca Juga: Dongkrak Penjualan, Tesla Pangkas Harga Jual di AS dan Jerman

Dilansir dari Reuters, adalah pasar terbesar kedua Tesla yang menyumbang sekitar dua pertiga dari semua penjualan kendaraan listrik secara global pada tahun 2022. China juga menjadi rumah bagi pabrik terbesar Tesla.

Meskipun demikian, Musk tidak menyebut satu pun pabrikan mobil listrik China yang berpotensi menjadi rival Tesla.

"Tim kita menang di China. Dan berpikir kami benar-benar mampu menarik talenta terbaik di China. Jadi semoga itu terus berlanjut," lanjut Musk.

Sejauh ini beberapa merek China yang cukup sukses menyaingi Tesla adalah Xpeng, Nio, dan BYD.

Baca Juga: Selangkah Lebih Dekat, China Berambisi Kuasai Pasar Otomotif Global

Musk memang cukup sering memuji pekerja dan pesaing mereka yang ada di China.

Di tahun 2021 misalnya, Musk menyebut beberapa produsen mobil listrik asal China sangat ahli dalam perangkat lunak. Ia juga memuji para pekerja Tesla di China yang menjaga produksi tetap hidup selama penguncian ketat akibat Covid-19 tahun lalu.

Tesla juga mengatakan bahwa pemotongan harga yang dilakukan baru-baru ini cukup sukses merangsang permintaan. Dijelaskan bahwa mereka memangkas biaya dengan maksud untuk tumbuh di tengah ancaman resesi tahun ini.

Pemotongan harga itu merupakan respons ataspersaingan yang meningkat dan permintaan yang melambat di China. Pemotongan harga kemudian juga dilakukan di pasar lain seperti Amerika Serikat.