KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (
ELPI) menyiapkan alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) yang cukup agresif pada 2026. Langkah ini untuk memperkuat ekspansi armada dan mendukung diversifikasi usaha yang dijalankan perusahaan. Pada tahun ini ELPI menyiapkan capex dengan estimasi mencapai sekitar Rp 1,3 triliun hingga Rp 1,5 triliun. Dana tersebut difokuskan untuk mendukung strategi pertumbuhan, khususnya melalui penambahan armada, diversifikasi usaha, serta ekspansi bisnis ke sektor yang lebih luas.
Corporate Secretary ELPI Wawan Heri Purnomo mengatakan, alokasi belanja modal tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas operasional perusahaan, terutama untuk menangkap peluang di proyek offshore yang terus berkembang. “Alokasi ini difokuskan untuk mendukung strategi pertumbuhan Perseroan, khususnya melalui penambahan armada, diversifikasi usaha, serta ekspansi bisnis,” ujar Wawan kepada Kontan.co.id, pekan lalu. Hingga kuartal I-2026, realisasi capex ELPI telah mendekati Rp 1 triliun. Hal ini terutama berasal dari investasi strategis melalui pengadaan kapal Multi Purpose Support Vessel (MPSV) yang dilakukan oleh entitas anak perseroan, PT ELPI Trans Cargo, melalui mekanisme lelang.
Baca Juga: Pendapatan &Laba Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari (ELPI) Kompak Menyusut di 2025 Selain itu, ELPI juga merealisasikan penambahan dua unit kapal fast crewboat yakni Jawara 2601 dan Jawara 3401. Secara keseluruhan, manajemen memastikan penggunaan capex dilakukan secara terukur dan selektif agar tidak hanya mendorong pertumbuhan kapasitas usaha, tetapi juga memperkuat daya saing perseroan di industri pelayaran. Wawan menjelaskan, rencana ekspansi armada yang cukup progresif tahun ini merupakan bagian dari strategi pertumbuhan jangka menengah dan panjang. “Ekspansi ini dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar serta kesiapan operasional Perseroan,” ungkapnya. Ia menjelaskan, proses pembangunan kapal membutuhkan waktu yang relatif panjang sehingga penambahan armada pada periode 2024 hingga 2025 belum sepenuhnya tercermin secara signifikan dalam peningkatan kapasitas operasional. Memasuki 2026, ELPI memperkirakan jumlah armada yang siap beroperasi akan meningkat lebih signifikan seiring mulai beroperasinya kapal-kapal yang sebelumnya masih dalam tahap pembangunan maupun pengadaan.
Baca Juga: Pemerintah Optimistis Penyaluran FLPP Lampaui Target, Ini Realisasi hingga April 2026 Beberapa armada yang ditargetkan siap beroperasi antara lain tiga set tug and barge serta lima unit crewboat yang dijadwalkan delivery pada kuartal II-2026. Selain penambahan armada, perusahaan mulai melakukan diversifikasi usaha ke sektor subsea serta Engineering, Procurement, Construction, and Installation (EPCI) untuk memperluas portofolio bisnis dan meningkatkan nilai tambah layanan. “Dengan kombinasi ekspansi armada dan diversifikasi usaha tersebut, ELPI optimistis dapat memperkuat kapasitas operasional sekaligus menangkap peluang pertumbuhan yang lebih luas, baik di pasar domestik maupun internasional,” jelas Wawan.
Dampak Geopolitik Global ke Bisnis Kuartal I-2026
Memasuki kuartal pertama 2026, laju bisnis perusahaan mengalami tekanan berupa lonjakan biaya operasional akibat kenaikan harga BBM. Wawan mengungkap, sejak awal tahun ini ELPI mencatat kenaikan biaya operasional berkisar pada 20%-30%. Kenaikan tersebut sejalan dengan dinamika global, termasuk pengaruh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang secara tidak langsung berdampak terhadap pergerakan harga minyak. “Kenaikan biaya operasional, khususnya pada komponen bahan bakar yang bersifat fluktuatif. Bahkan, peningkatan harga bahan bakar tercatat berada di kisaran 50% hingga 83%, dengan potensi kenaikan lebih lanjut hingga 150%,” jelasnya.
Adapun, kenaikan operasional ini utamanya terjadi pada segmen bisnis drybulk, karena sangat berkaitan dengan pergerakan ekonomi global dan perdagangan komoditas.
Lebih jauh dia berujar, dalam segmen drybulk, charter kapal berdasarkan freight charter, di mana bahan bakar menjadi beban dari pemilik kapal. Sehingga kondisi ini akan menambah biaya operasional secara langsung. Sementara itu, untuk segmen offshore, pengaruhnya dinilai belum terlalu signifikan karena beban biaya bahan bakar masih menjadi tanggungan klien. “Dengan kondisi ini akan memberikan naiknya biaya operasional yang signifikan pada segmen drybulk yang mana hal tersebut akan mempengaruhi pendapatan secara konsolidasi, di mana pendapatan Perseroan saat ini terdiri dari segmen offshore dan drybulk,” jelasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News