Emas Antam Naik 70% Era Prabowo, Bagaimana Nasib Saham dan Kripto?



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perbedaan kinerja berbagai instrumen investasi menjadi sorotan selama dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pelemahan rupiah, emas mencatatkan kenaikan signifikan, sementara pasar saham domestik mengalami tekanan.

Emas juga dinilai mampu menjadi instrumen lindung nilai untuk menjaga aset di tengah gejolak pasar. Di sisi lain, aset kripto menawarkan peluang keuntungan yang besar, tetapi disertai tingkat risiko dan volatilitas yang lebih tinggi.

Melansir data Bloomberg, harga emas global pada hari pertama pemerintahan Prabowo, 21 Oktober 2024, berada di level US$ 2.961 per ons troi. Hingga 19 Oktober 2026, harganya meningkat 41,83% menjadi US$ 4.177 per ons troi.


Kenaikan tersebut turut tercermin pada harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Pada 21 Oktober 2024, harga emas Antam tercatat Rp 1.514.000 per gram. Sementara itu, pada 19 Oktober 2026, harganya mencapai Rp 2.574.000 per gram, atau naik sekitar 70%.

Baca Juga: BEI Berlakukan ARB 7% hingga Akhir 2026, Ini Aturan Lengkapnya

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, mengatakan kinerja emas ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari pelemahan rupiah, ketidakpastian geopolitik, hingga perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral global.

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut mendorong kenaikan harga emas di pasar domestik. Pasalnya, harga emas global menggunakan denominasi dolar AS sehingga depresiasi rupiah dapat meningkatkan harga emas dalam mata uang lokal.

Selain itu, konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global mendorong investor mengalihkan sebagian aset ke instrumen yang dianggap sebagai safe haven. Emas juga dinilai dapat membantu menjaga daya beli investor di tengah tekanan inflasi dan fluktuasi nilai tukar.

Di sisi lain, Rahma bilang aset kripto sebagai alternatif high-risk dan high-return.

“Meskipun memiliki volatilitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan emas, aset kripto secara akumulatif mencatatkan lonjakan harga yang signifikan dalam dua tahun terakhir didukung siklus adopsi institusional yang kian matang serta kejelasan regulasi aset digital di berbagai belahan dunia,” jelas Rahma kepada Kontan, Senin (19/10/2026).

Perbandingan Investasi pada Era SBY, Jokowi, dan Prabowo

Rahma menjelaskan, perbedaan kinerja antar-instrumen investasi juga mencerminkan perubahan karakter pasar keuangan pada setiap era pemerintahan. Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pasar saham mencatatkan pertumbuhan yang besar.

Kala itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa tertinggi dengan kenaikan akumulatif sekitar 480% selama 10 tahun. Kinerja tersebut didorong oleh lonjakan harga komoditas global atau commodity boom, stabilisasi makroekonomi setelah krisis 1998, serta derasnya arus modal asing yang masuk ke Indonesia.

Baca Juga: Kuasai 28,8% Kapitalisasi Pasar, BEI Keluarkan HSC dari IHSG

Selain saham, obligasi dan deposito juga menawarkan imbal hasil (yield) yang menarik di tengah tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI) yang relatif tinggi pada masa tersebut. Kondisi ini menjadikan instrumen pendapatan tetap sebagai salah satu pilihan investasi yang menguntungkan.

Pada era SBY, harga emas mulai meningkat seiring terjadinya krisis finansial global 2008. Namun, apresiasinya masih tertinggal dibandingkan kenaikan pasar saham. Sementara itu, dolar AS cenderung stabil terhadap rupiah, didukung fundamental ekspor komoditas yang kuat.

Berlanjut ke era Presiden Joko Widodo (Jokowi), pertumbuhan pasar saham cenderung lebih moderat. IHSG tercatat tumbuh sekitar 51% selama satu dekade. Kinerja tersebut menghadapi tekanan dari berbagai faktor eksternal, termasuk normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed), perang dagang, hingga pandemi Covid-19.

Pada periode tersebut, Surat Berharga Negara (SBN) dan deposito menjadi pilihan investasi yang relatif stabil. Keduanya menawarkan potensi imbal hasil yang menarik di tengah inflasi yang terkendali.

Sementara itu, selama dua tahun pertama pemerintahan Prabowo, pasar saham domestik menghadapi tekanan akibat sentimen eksternal dan perubahan selera risiko investor global. Kondisi tersebut membuat investor perlu lebih selektif dalam memilih saham atau melakukan stock picking.

Sejak Prabowo menjabat pada 21 Oktober 2024 hingga 19 Oktober 2026, IHSG tercatat terkoreksi 35,6%.

Sebaliknya, kinerja obligasi pemerintah masih mencatatkan pertumbuhan positif. Indeks IBPA Government Total Return, yang mencerminkan kinerja total obligasi pemerintah, meningkat 10,11%, dari 386,0753 pada 21 Oktober 2024 menjadi 425,1024 pada 16 Oktober 2026.

Menurut Rahma, tekanan terhadap saham dan obligasi antara lain berkaitan dengan arus modal asing keluar atau capital outflow, ketidakpastian kebijakan fiskal domestik, serta suku bunga tinggi yang meningkatkan biaya modal perusahaan.

Sebaliknya, emas memperoleh dukungan dari kebutuhan lindung nilai di tengah ketidakpastian. Adapun kripto menjadi pilihan bagi investor dengan profil risiko lebih agresif yang ingin memanfaatkan peluang dari pergerakan harga aset digital.

Baca Juga: Sejumlah Emiten Bersiap Buyback Saham, Bisa Angkat IHSG?

Pelemahan Rupiah Ikut Memengaruhi Hasil Investasi

Selain kondisi pasar global, nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penting dalam menentukan hasil investasi selama pemerintahan Prabowo.

Rahma menyoroti pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang berlangsung selama periode tersebut. Nilai tukar dolar AS meningkat dari Rp 15.504 pada awal pemerintahan Prabowo menjadi Rp 18.046 per dolar AS pada Senin (19/10/2026). Dengan demikian, rupiah melemah sekitar 16,38%.

Pelemahan rupiah membuat aset yang harganya mengacu pada dolar AS, seperti emas, berpotensi memberikan hasil berbeda bagi investor domestik dibandingkan instrumen yang lebih sensitif terhadap kondisi pasar dalam negeri.

Meski demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan karakteristik setiap instrumen, termasuk volatilitas, risiko penurunan harga, likuiditas, dan jangka waktu investasi. Kenaikan harga emas maupun kripto dalam periode tertentu tidak menjamin kinerja serupa akan berlanjut pada masa mendatang.

“Instrumen yang cuan (emas dan kripto), menjadi katup pengaman (hedge) sekaligus instrumen spekulatif yang paling diuntungkan dari suasana ketidakpastian makroekonomi global dan pelemahan mata uang local,” pungkas Rahma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News