Emas dan Kripto Menguat, Minyak Tertekan Usai Demokrat Kuasai Kongres AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil pemilu sela Amerika Serikat (AS) menjadi katalis baru bagi pergerakan pasar keuangan global. Kemenangan Partai Demokrat yang berhasil menguasai Senat dan DPR AS memicu perubahan sentimen investor. Harga emas dan aset kripto menguat, sementara harga minyak mentah terkoreksi tajam.

Melansir Bloomberg pada Kamis (5/11/2026) pukul 12.00 WIB, harga emas spot tercatat sebesar US$ 4.140,65 per ons troi atau menguat 1,97% dibandingkan sesi sebelumnya. 

Di pasar kripto, berdasarkan CoinMarketCap pada waktu yang sama, Bitcoin naik 4,60% ke US$ 80.566, sedangkan Ethereum menguat 7,01% ke US$ 2.427.


Baca Juga: IHSG Menguat 1,96% ke 5.016 di Sesi I Kamis (5/11), BRPT, AADI, EXCL Top Gainers LQ45

Sebaliknya, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 1,33% menjadi US$ 86,95 per barel. Harga minyak Brent juga melemah 0,70% ke US$ 93,96 per barel.

Financial Expert Ajaib Sekuritas Panji Yudha mengatakan, kemenangan Demokrat di Kongres AS memunculkan harapan terhadap perubahan arah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump, terutama terkait konflik AS-Iran.

"Kongres baru diharapkan menahan diri. Konflik Iran yang telah berlangsung selama delapan bulan turut mendorong kenaikan harga bensin dan inflasi. Qatar juga semakin aktif sebagai mediator, sementara JD Vance mengakui keterlibatan AS dalam perang menjadi salah satu alasan pemilih Republik beralih," ujar Panji dalam keterangannya, Kamis (5/11/2026).

Ekspektasi berakhirnya konflik tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak mentah. Pasar memperkirakan meredanya ketegangan geopolitik dapat membuka peluang pemulihan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.

Pada perdagangan Rabu (4/11/2026), harga WTI sempat anjlok 8,7% ke sekitar US$ 87 per barel. Sementara itu, harga Brent merosot 9,3% ke sekitar US$ 93 per barel. Penurunan harga energi turut meredakan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi global.

Di sisi lain, hasil pemilu sela AS juga mendorong penguatan pasar saham Wall Street. Pada penutupan perdagangan Rabu (4/11/2026), indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 3,03% ke 53.357, atau bertambah sekitar 1.570 poin. Indeks S&P 500 naik 1,58% ke 7.689, sedangkan Nasdaq menguat 1,44% ke 25.737.

Baca Juga: Rupiah Spot Menguat 0,40% ke Rp 18.095 per Dolar AS pada Kamis (5/11) Siang

Financial Expert Ajaib Miftahul Khaer mengatakan, pasar membaca hasil pemilu tersebut sebagai skenario divided government. Dalam skenario ini, Kongres dikuasai Demokrat, sementara Gedung Putih tetap berada di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

"Kombinasi ini cenderung membatasi legislasi baru, sehingga ketidakpastian kebijakan justru dinilai mengecil," ujar Miftahul.

Sentimen tersebut turut mempengaruhi pergerakan aset lindung nilai. Selain harapan meredanya konflik geopolitik, pelemahan dolar AS ikut menopang harga emas. Pada Kamis (5/11/2026) pukul 12.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) turun 0,30% ke 101,26.

Penurunan harga minyak juga berpotensi meredakan tekanan inflasi sehingga mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed). Kondisi tersebut menjadi perhatian investor dalam menentukan strategi investasi pada aset-aset keuangan.

Sementara itu, penguatan Bitcoin turut didukung oleh pemulihan harga setelah sempat tertekan. Ajaib mencatat, Bitcoin sempat menyentuh US$ 81.196 setelah bangkit dari posisi US$ 75.736. Kenaikan tersebut memicu likuidasi posisi kontrak berjangka lebih dari US$ 1 miliar, dengan posisi short menyumbang sekitar US$ 574 juta.

Baca Juga: BEI Tambah Informasi Status Investor di Data Pemegang Saham 1%, Ini Panduan Ceknya

Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan juga meningkat 3,80% menjadi US$ 2,67 triliun pada Kamis (5/11/2026) pukul 08.00 WIB. Adapun dominasi Bitcoin tercatat sebesar 60,65%.

Ke depan, Panji memproyeksikan harga Bitcoin bergerak pada rentang US$ 80.000-US$ 82.000. Sementara itu, Ethereum diperkirakan berada di kisaran US$ 2.350-US$ 2.500.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News