Emas Global Perkasa pasca-Pemilu AS, Harga Emas Antam Berpotensi Lanjutkan Reli



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Hasil Pemilu Paruh Waktu (midterm elections) AS yang dimenangkan Partai Demokrat memberi amunisi bagi reli pasar logam mulia. Harga emas dunia mendekati US$ 4.100 per ons troi, tercatat mampu membukukan kenaikan lebih dari 5% pekan ini seiring meredanya kekhawatiran geopolitik Iran, menurunnya laju inflasi, dan melandainya yield obligasi AS. Melansir data Trading Economics pada Minggu (8/11), harga emas di pasar spot berada di posisi US$ 4.070,41 per ons troi. Kendati sempat terkoreksi tipis 0,42% secara harian akibat dinamika dolar AS, emas secara mingguan tetap mengukuhkan penguatan solid sebesar 5,02%. Pelemahan indeks dolar AS sekitar 0,3% serta melandainya yield obligasi pemerintah AS menjadi amunisi utama penopang laju emas. Head Research Analyst Traze Andalan Futures, Kuswanto, menilai hasil pemilu paruh waktu AS memberikan sentimen positif yang cukup kuat terhadap harga emas melalui perubahan ekspektasi pasar.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Fluktuatif, Pasar Cermati Data Tenaga Kerja AS dan Konflik Iran "Hasil pemilu tersebut meningkatkan harapan investor terhadap peluang meredanya konflik Iran dan AS, sehingga risiko gangguan pasokan energi global berpotensi berkurang," ujar Kuswanto kepada KONTAN, Sabtu (7/11). Ia menjelaskan, jika tekanan inflasi makin terkendali, peluang melonggarnya kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) akan terbuka, yang berpotensi menekan dolar AS dan yield obligasi. Kendati demikian, pergerakan dolar AS, yield obligasi, dan dinamika geopolitik tetap menjadi penentu utama arah harga emas selanjutnya. Mengenai prospek hingga akhir tahun 2026, Kuswanto melihat ruang penguatan harga emas dunia masih terbuka di tengah ketidakpastian global. "Pembelian emas oleh bank sentral, diversifikasi cadangan devisa, serta kebutuhan investor untuk melindungi nilai aset dari risiko ekonomi global dapat menjadi penopang harga dalam jangka menengah," jelasnya. Namun, ia memberi catatan apabila konflik geopolitik mereda secara permanen, dolar AS kembali menguat, atau yield obligasi meningkat, emas rentan mengalami tekanan jual dan koreksi jangka pendek. Dalam skenarionya, Kuswanto memproyeksikan harga emas global berpeluang bergerak di kisaran US$ 4.250 hingga US$ 4.500 per ons troi hingga akhir 2026. Proyeksi ini beriringan dengan pandangan pasar global, seperti hasil survei Reuters akhir Oktober yang mencatat median proyeksi emas 2026 di level US$ 4.495 per ons troi, serta estimasi OCBC di level US$ 4.250 per ons troi. Sementara itu, untuk pasar dalam negeri, penguatan emas internasional membawa dorongan positif bagi emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam). "Penguatan harga emas dunia pada dasarnya memberikan dorongan positif terhadap harga emas domestik, termasuk emas Antam. Namun, kenaikannya tidak selalu terjadi secara langsung maupun dengan persentase yang sama karena terdapat pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," terang Kuswanto. Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu variabel kunci. Pelemahan rupiah dapat mengerek harga emas domestik meski pasar global stabil, sedangkan penguatan rupiah dapat meredamnya. Selain faktor kurs, pasokan permintaan fisik lokal, biaya produksi, serta margin spread harga jual dan buyback turut menentukan pergerakan akhir harga emas Antam. Dengan mengasumsikan nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp 18.100 per dolar AS dan selisih harga domestik relatif stabil, Kuswanto memperkirakan harga emas Antam berpotensi bergerak di kisaran Rp 2,65 juta hingga Rp 2,85 juta per gram hingga akhir tahun 2026.

Baca Juga: Obligasi ESG 2027 Masih Dibayangi Tantangan, Ini Penyebabnya


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News