Emas Jadi Instrumen Investasi Paling Cuan di Era Prabowo, IHSG Malah Boncos



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emas menjadi instrumen investasi dengan kinerja paling cuan selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. 

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, harga emas mencatatkan kenaikan yang signifikan dan mengungguli sejumlah instrumen investasi lainnya.

Melansir data Bloomberg, harga emas global pada hari pertama pemerintahan Presiden Prabowo, 21 Oktober 2024, berada di level US$ 2.961 per ons troi. Hingga 21 Oktober 2026, harganya telah meningkat 41,83% menjadi US$ 4.177 per ons troi.


Baca Juga: Adi Sarana Armada (ASSA) Kantongi Kredit Investasi Rp 500 Miliar dari BCA

Kenaikan tersebut turut tercermin pada harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Pada 21 Oktober 2024, harga emas Antam tercatat Rp 1.514.000 per gram. Sementara itu, pada 21 Oktober 2026, harganya mencapai Rp 2.554.000 per gram, atau naik lebih dari 70%.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual mengungkapkan, berdasarkan data historis yang dihimpunnya, emas memberikan return sebesar paling besar dalam rupiah selama dua tahun pemerintahan Prabowo.

"Instrumen investasi emas memberikan return paling tinggi selama dua tahun pemerintahan Prabowo, yakni sebesar 79,9% dalam rupiah. Hal ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global sehingga meningkatkan performa aset safe haven," ujar David kepada Kontan, Selasa (20/10/2026).

Jika dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, instrumen investasi dengan kinerja terbaik menunjukkan perbedaan. Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saham Indonesia mencatatkan return tertinggi sebesar 489%. Tapi dus sejak Prabowo menjabat pada 21 Oktober 2024 hingga 19 Oktober 2026, IHSG malah tercatat terkoreksi 35,6%. 

Sementara itu, pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi), emas menjadi instrumen dengan return tertinggi, mencapai 182%. Kinerja emas saat itu didorong oleh tekanan inflasi pasca pandemi Covid-19 serta langkah bank-bank sentral yang mendiversifikasi aset dengan meningkatkan cadangan emas.

Baca Juga: Arkayana Lestari (AYLS) Beli 4.900 Saham Global Pacific Indonesia Senilai Rp 1 Miliar

Meski demikian, prospek emas ke depan tidak sepenuhnya tanpa tantangan. David bilang, kenaikan ekspektasi inflasi, termasuk yang dipengaruhi konflik AS-Iran, masih dapat menopang harga emas. Namun, ruang penguatan emas berpotensi terbatas seiring kenaikan imbal hasil atau yield global.

Di sisi lain, kenaikan yield global juga cenderung menekan kinerja aset berisiko, seperti saham dan kripto. Ketika imbal hasil instrumen berbunga meningkat, daya tarik aset berisiko dapat berkurang di tengah perubahan preferensi investor.

Meski begitu, arah pergerakan aset investasi masih dapat berubah dengan cepat. Menurut David, penurunan ketegangan geopolitik maupun perubahan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) dapat memicu rotasi investasi kembali ke aset-aset berisiko.

Karena itu, investor perlu mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global dalam menentukan strategi investasi.

Baca Juga: Rupiah Terancam Tembus Rp 19.000 per Dolar AS jika Tekanan MSCI Merembet ke SBN

David mengingatkan, meskipun kondisi saat ini cenderung menguntungkan aset safe haven, investor tetap perlu mewaspadai volatilitas harga emas. Kenaikan harga yang signifikan tidak menjamin instrumen tersebut akan terus memberikan keuntungan, mengingat koreksi harga tetap berpotensi terjadi.

Menurut dia, pemilihan instrumen investasi sebaiknya disesuaikan dengan toleransi risiko masing-masing investor, terutama di tengah pergerakan pasar yang dinamis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News