Emas Jadi Instrumen Paling Cuan Era Prabowo, IHSG Tertekan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perubahan kondisi geopolitik dan tekanan pasar keuangan turut memengaruhi kinerja berbagai instrumen investasi selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah kondisi tersebut, emas mencatatkan kenaikan harga paling menonjol dibandingkan sejumlah instrumen investasi lainnya.

Melansir data Bloomberg, harga emas global pada hari pertama pemerintahan Prabowo, 21 Oktober 2024, berada di level US$ 2.961 per ons troi. Hingga 19 Oktober 2026, harga emas dunia meningkat 41,83% menjadi US$ 4.177 per ons troi.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan, penguatan harga emas global tersebut juga tercermin pada harga emas batangan produksi Logam Mulia Antam.


Pada 21 Oktober 2024, harga emas Antam tercatat sebesar Rp 1.514.000 per gram. Sementara itu, pada 19 Oktober 2026, harganya telah mencapai Rp 2.574.000 per gram atau meningkat sekitar 70%.

Baca Juga: Jelang Tutup Penawaran, Penjualan SBR015 Capai Rp 12,1 Triliun

“Emas menjadi salah satu investasi paling menguntungkan selama dua tahun terakhir, dengan kenaikan harga Antam sekitar 70%. Pendorong utamanya adalah ketidakpastian geopolitik, tingginya permintaan aset aman, dan pelemahan rupiah,” jelas Budi kepada Kontan, Senin (19/10/2026).

Di luar emas, instrumen obligasi pemerintah juga membukukan kinerja positif, meskipun kenaikannya lebih terbatas. Indeks IBPA Government Total Return yang mencerminkan kinerja total obligasi pemerintah naik 10,11%, dari 386,0753 pada 21 Oktober 2024 menjadi 425,1024 pada 16 Oktober 2026.

Sebaliknya, nilai tukar rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kurs dolar AS meningkat dari Rp 15.504 menjadi Rp 18.046, yang mencerminkan pelemahan rupiah sekitar 16,39% selama periode tersebut.

Kinerja Emas dan Saham pada Era Prabowo, Jokowi, dan SBY

Budi juga membandingkan kinerja instrumen investasi pada masa pemerintahan Prabowo dengan dua presiden sebelumnya, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi).

Pada era SBY, pasar saham menjadi salah satu instrumen unggulan dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai ratusan persen selama sepuluh tahun pemerintahan. Sementara itu, pada era Jokowi, kinerja emas terlihat lebih menonjol dibandingkan saham.

Baca Juga: IHSG Anjlok di Bawah 5.000, Menko Airlangga: Pasar Naik Turun Bergantung Sentimen

“Sementara itu, dua tahun pemerintahan Prabowo ditandai oleh penguatan emas dan tekanan besar pada IHSG. Namun, perbandingan harus menggunakan imbal hasil tahunan karena periode pemerintahannya berbeda,” jelasnya.

Sejak Prabowo menjabat pada 20 Oktober 2024, IHSG tercatat terkoreksi 35,6% hingga 19 Oktober 2026. Kondisi tersebut berbeda dengan kinerja pasar saham pada dua periode pemerintahan sebelumnya.

Selama sepuluh tahun pemerintahan SBY, IHSG tercatat melonjak 428,2%. Adapun selama era pemerintahan Jokowi, indeks saham domestik tersebut naik 46,8%.

Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa keuntungan investasi sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar dan karakteristik setiap periode. Meski emas mencatatkan kenaikan signifikan dalam dua tahun terakhir, investor tetap perlu mempertimbangkan potensi risiko dan tujuan investasinya.

Strategi Investasi: Waspadai Koreksi Harga Emas

Melihat prospek ke depan, Budi menilai harga emas masih berpeluang menguat. Namun, investor perlu mewaspadai risiko koreksi setelah harga logam mulia tersebut mengalami kenaikan yang signifikan.

Selain emas, obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN) dapat menjadi alternatif investasi, terutama bagi investor yang mengincar pendapatan berkala dari kupon dengan tingkat imbal hasil yang relatif menarik.

Baca Juga: Tertekan Sanksi Rusia dan Ada Isu MSCI, Rupiah Selasa (20/10) Berpotensi Melemah

Di pasar saham, koreksi harga juga mulai membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk mengakumulasi saham, terutama emiten dengan fundamental yang kuat. Kendati demikian, penurunan harga yang tajam tidak serta-merta membuat suatu saham layak dibeli.

Investor perlu tetap memperhatikan kinerja keuangan perusahaan, prospek bisnis, valuasi saham, serta kemampuan emiten menghasilkan keuntungan sebelum mengambil keputusan investasi.

Sementara itu, aset kripto masih menawarkan potensi keuntungan yang tinggi. Namun, volatilitas harga yang besar membuat instrumen ini memiliki risiko yang perlu diperhitungkan secara cermat.

Untuk menyusun strategi investasi, Budi menyarankan investor agar tidak sekadar mengejar aset yang sudah mengalami kenaikan harga tinggi. Diversifikasi menjadi salah satu langkah untuk mengelola risiko sekaligus menjaga peluang memperoleh imbal hasil yang optimal.

Investor dapat mengombinasikan emas, SBN, deposito, dan saham berfundamental kuat sesuai dengan profil risiko serta tujuan keuangan masing-masing. Adapun investasi kripto sebaiknya ditempatkan dalam porsi terbatas sesuai toleransi risiko investor.

“Intinya, investasi terbaik bukan selalu yang memberikan keuntungan tertinggi, melainkan yang menghasilkan imbal hasil optimal dengan risiko yang mampu ditanggung investor,” pungkas Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News