KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emas kian dilirik sebagai instrumen strategis dalam pengelolaan dana haji, terutama di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi yang masih tinggi. Selain berfungsi sebagai aset lindung nilai, emas dinilai mampu menjaga daya beli dana jangka panjang yang dibutuhkan calon jemaah. Berdasarkan riset World Gold Council, alokasi emas sebesar 5%–15% dari total aset dapat meningkatkan imbal hasil berbasis risiko. Selain itu, emas juga mampu menekan penurunan nilai saat pasar bergejolak serta memperkuat ketahanan portofolio dalam jangka panjang. Dengan karakteristik tersebut, emas dinilai layak menjadi bagian dari portofolio dana haji. Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan mengatakan alokasi emas pada kisaran tersebut masih relevan, terutama untuk tujuan jangka panjang seperti dana haji.
"Ini cukup untuk memberikan proteksi tanpa mengorbankan potensi imbal hasil dari instrumen lain," ujar Bram kepada Kontan, Jumat (24/4/2026).
Baca Juga: IHSG Anjlok 3,38% ke 7.129 Hari Ini (24/4), DSSA dan Grup Barito Jadi Top Losers LQ45 Ia menambahkan, emas cukup kompetitif sebagai aset lindung nilai, terutama saat inflasi tinggi atau pasar bergejolak. "Dibanding obligasi atau sukuk yang memberi imbal hasil stabil, emas unggul dalam menjaga daya beli dan menahan penurunan nilai portofolio saat krisis," kata Bram.
Harga Emas dan Biaya Haji Sama-Sama Naik
Saat ini, harga emas batangan bersertifikat Aneka Tambang (Antam) berada di kisaran Rp 2,8 juta per gram. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan satu dekade lalu yang hanya sekitar Rp 590.000 per gram. Di sisi lain, rata-rata Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) juga mengalami kenaikan. Tahun ini, jamaah harus membayar sekitar Rp 54,19 juta, meningkat dari Rp 34,60 juta pada 2016. Kondisi ini memperkuat argumen bahwa emas dapat menjadi instrumen yang relevan untuk menjaga nilai dana haji dalam jangka panjang.
Strategi Investasi: Jangka Menengah hingga Panjang
Bram menilai investasi emas idealnya dilakukan dalam jangka menengah hingga panjang, yakni sekitar 5–10 tahun. Namun, hasil investasi tetap bergantung pada harga masuk dan disiplin dalam melakukan akumulasi, mengingat pergerakan emas tidak selalu naik secara linear setiap tahun. Dalam jangka pendek hingga menengah, ia melihat pergerakan harga emas berpotensi tertahan. Hal ini dipengaruhi oleh kuatnya permintaan dolar Amerika Serikat, khususnya untuk transaksi energi di tengah dinamika geopolitik global.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Terus Tekan Rupiah, Ini Proyeksi Pekan Depan Selain itu, kebijakan suku bunga Federal Reserve juga menjadi faktor kunci. Selama suku bunga masih berada di level tinggi, daya tarik dolar cenderung menahan kenaikan harga emas. Dengan sikap Ketua The Fed Jerome Powell yang masih berhati-hati, ruang kenaikan emas dalam jangka pendek dinilai terbatas. Namun, penguatan emas berpotensi lebih terbuka jika pasar mulai melihat peluang penurunan suku bunga ke depan.
Risiko dan Strategi Diversifikasi
Di sisi lain, Bram mengingatkan adanya sejumlah risiko dalam investasi emas, seperti volatilitas jangka pendek, tidak menghasilkan arus kas, serta risiko timing pembelian di harga puncak. Selain itu, harga emas juga dapat bergerak stagnan dalam periode tertentu. Oleh karena itu, strategi terbaik adalah menempatkan emas sebagai bagian dari diversifikasi portofolio, bukan sebagai instrumen utama. Pendekatan bertahap (averaging) dinilai lebih efektif, terutama jika dikombinasikan dengan instrumen stabil seperti sukuk agar portofolio tetap seimbang. "Emas bukan instrumen untuk mengejar keuntungan cepat, melainkan menjaga nilai. Untuk tujuan jangka panjang seperti haji, stabilitas justru menjadi faktor utama," kata Bram. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News