KONTAN.CO.ID - Harga emas naik pada Kamis (9/4/2026) seiring melemahnya dolar AS, di tengah ketidakpastian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran serta konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Investor juga menantikan data inflasi AS yang akan dirilis, di tengah tekanan harga yang meningkat. Melansir
Reuters, emas spot tercatat naik 0,6% menjadi US$4.743,50 per ons troi pada pukul 11.21 GMT, setelah mencapai level tertinggi sejak 19 Maret pada hari Rabu.
Baca Juga: Persidangan Korupsi PM Israel Netanyahu Kembali Digelar pada Minggu Ini Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni turun 0,2% menjadi US$4.767,80 per ons troi. “Dolar yang melemah sedikit memberi dorongan pada emas saat ini, tetapi dengan berita cepat yang terus muncul dari Timur Tengah, pasar menjadi agak sulit diprediksi dari perspektif investasi,” kata analis independen Ross Norman. Dolar AS turun tipis setelah mengalami penurunan tajam pada sesi sebelumnya, seiring perhatian pasar tertuju pada apakah gencatan senjata antara AS dan Iran akan bertahan. Meskipun kedua pihak menyatakan kemenangan dalam perang yang berlangsung lima minggu, sengketa utama tetap belum terselesaikan. Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan eskalasi besar jika Iran menolak kesepakatan.
Baca Juga: Selat Hormuz Masih Ditutup, UAE Tegaskan Iran Harus Buka Tanpa Syarat Israel mengebom lebih banyak target di Lebanon pada Kamis, yang semakin mengancam gencatan senjata di Timur Tengah, setelah serangan terbesar perang ini menewaskan lebih dari 250 orang dan berpotensi menggagalkan gencatan senjata yang dicapai Trump sejak awal. Harga minyak naik 3% karena kekhawatiran terhadap berlanjutnya pembatasan aliran energi melalui Selat Hormuz. “Apakah emas sedang mengincar level US$5.000? Ya, pasti. Tapi itu masih agak jauh saat ini. Kita harus melihat apakah dan bagaimana Selat Hormuz benar-benar dibuka,” tambah Norman. Sejak perang dimulai pada 28 Februari, harga emas telah turun lebih dari 11%, karena lonjakan harga minyak secara drastis mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga AS akibat kekhawatiran inflasi yang meningkat.
Notulen rapat Federal Reserve AS pada Maret menunjukkan bahwa lebih banyak pembuat kebijakan merasa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk menahan inflasi yang masih melampaui target bank sentral.
Baca Juga: Chevron Proyeksi Pendapatan Hulu Naik US$ 2,2 Miliar Imbas Kenaikan Harga Minyak Investor kini menantikan data Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Februari, yang akan dirilis pada pukul 12.30 GMT, sebagai petunjuk arah kebijakan moneter AS selanjutnya. Di sisi logam lain, harga perak spot naik 0,1% menjadi US$74,16 per ons troi, platinum bertambah 0,2% menjadi US$2.034,21, dan paladium naik 0,6% menjadi US$1.563,48 per ons troi.