KONTAN.CO.ID - Harga emas naik pada Kamis (30/4/2026) seiring melemahnya dolar AS dan meredanya harga minyak. Namun, emas masih berada di jalur penurunan bulanan kedua berturut-turut, karena kekhawatiran inflasi akibat perang Iran yang masih berlangsung menutupi prospek pemangkasan suku bunga. Data
Reuters menunjukkan, harga emas spot naik 1,7% menjadi US$ 4.618,67 per ons pada pukul 13.46 EDT (17.46 GMT), setelah sehari sebelumnya sempat turun ke level terendah dalam satu bulan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup menguat 1,5% ke US$ 4.629,60.
David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, mengatakan pasar emas mendapat dukungan dari sedikit meredanya kenaikan harga energi dan turunnya dolar AS, dengan perhatian pasar saat ini tertuju pada ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed). Nilai dolar AS melemah setelah Jepang melakukan intervensi untuk menopang yen, yang merupakan intervensi resmi pertama dalam hampir dua tahun terakhir. Dolar yang lebih lemah membuat logam mulia yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Harga minyak global juga turun setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam empat tahun pada sesi perdagangan yang sama. Lonjakan harga energi sebelumnya telah memicu kekhawatiran inflasi, yang membuat arah kebijakan pemangkasan suku bunga bank sentral menjadi semakin tidak pasti. Sepanjang bulan ini, harga emas spot telah turun lebih dari 1%. Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian, suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan daya tarik emas karena aset berbunga menjadi lebih menarik.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Gila-gilaan: UEA Cabut dari OPEC, Selat Hormuz Terkunci Pada Rabu, The Fed mempertahankan suku bunga namun meningkatkan kekhawatiran terkait inflasi. Sementara itu, Bank of England juga mempertahankan suku bunga dan memaparkan beberapa skenario dampak ekonomi dari perang Iran. Salah satu skenario tersebut dapat memaksa bank sentral menaikkan biaya pinjaman secara “agresif”. Data menunjukkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS naik 0,7% bulan lalu, menjadi kenaikan terbesar sejak Juni 2022. Angka ini sesuai dengan perkiraan ekonom. Analis Citi menyebut tekanan jual emas masih bisa kuat dalam waktu dekat karena ketidakpastian di Timur Tengah. Namun mereka memperkirakan emas pada akhirnya akan kembali menarik sebagai aset safe haven. Citi mempertahankan target harga emas pada US$ 4.300 untuk tiga bulan ke depan dan US$ 5.000 untuk periode enam hingga dua belas bulan.
Tonton: Debat Panas Trump vs Kanselir Jerman Soal Perang Iran Sementara itu, porsi emas dalam cadangan devisa India meningkat menjadi 16,7% pada akhir Maret. Harga perak spot naik hampir 3% menjadi US$ 73,59. Platinum melonjak 5,3% ke US$ 1.980,13, sedangkan palladium naik 4,9% menjadi US$ 1.529,45. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News