Emas Menuju Penurunan Mingguan 1,6% Jumat (5/6), Sinyal Hawkish The Fed Membebani



KONTAN.CO.ID - Harga emas melemah pada perdagangan Jumat (5/6/2026) dan berada di jalur penurunan mingguan, tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Melansir Reuters, harga emas spot turun 0,3% ke level US$ 4.461,28 per ons troi pada pukul 07.18 GMT. Sepanjang pekan ini, logam mulia tersebut telah terkoreksi sekitar 1,6%.

Baca Juga: UPDATE-Harga Minyak Dunia Turun Setelah Kabar dari Oman, Brent ke US$ 94,79


Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turun 0,4% menjadi US$ 4.487,90 per ons troi.

Sentimen pasar dipengaruhi oleh memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran setelah kelompok Hizbullah yang didukung Iran menolak proposal gencatan senjata baru di Lebanon.

Di sisi lain, Israel menyatakan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah tersebut.

Kondisi tersebut dinilai menghambat upaya Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan konflik di Lebanon dan mencapai kesepakatan dengan Teheran.

Baca Juga: Oman Bantah Gangguan Ekspor Minyak, Aktivitas Terminal Mina al Fahal Tetap Berjalan

"Pesimisme terkait penyelesaian konflik Iran menjadi faktor negatif bagi emas. Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi kondisi suku bunga yang lebih ketat, yang turut menekan harga emas," ujar Kepala Pasar Institusional ABC Refinery, Nicholas Frappell.

Dari sisi kebijakan moneter, Presiden Federal Reserve Kansas City Jeffrey Schmid mengatakan, bank sentral AS kini dihadapkan pada pilihan untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi lebih lama atau bahkan kembali menaikkannya guna meredam inflasi yang masih berada di atas target.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly menegaskan, arah suku bunga ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan ekonomi. Menurutnya, kebijakan moneter saat ini berada pada posisi yang tepat dan The Fed siap merespons berbagai kemungkinan.

Meski emas kerap dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.

Baca Juga: China Andalkan AI untuk Sebarkan Pemikiran Xi Jinping, Xinhua Siapkan Dana Jumb

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 51% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Investor kini menanti rilis data ketenagakerjaan non-pertanian (nonfarm payrolls/NFP) AS periode Mei yang dijadwalkan terbit pada Jumat waktu setempat. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Di pasar fisik, permintaan emas di India terpantau lesu pekan ini karena pembeli memilih menunggu stabilitas harga global. Sementara itu, premi emas di China juga mengalami penurunan.

Baca Juga: Perkuat Hubungan Bilateral, Presiden China Xi Jinping Akan Berkunjung ke Korea Utara

Logam mulia lainnya turut bergerak melemah. Harga perak spot turun 1,8% menjadi US$ 72,53 per ons troi, platinum terkoreksi 0,8% ke US$ 1.885,83 per ons troi, dan paladium turun 0,8% menjadi US$ 1.309,91 per ons troi.

Seluruh logam mulia tersebut diperkirakan menutup pekan ini dengan kinerja negatif.