Emas murah kerek permintaan dari mal India & China



MUMBAI. Pada pekan ini, ratusan konsumen di China mengantre untuk membeli emas. Sementara di Hong Kong, para konsumen berebut membeli gelang dan kalung. Kondisi serupa juga terlihat di India di mana warga di Negeri Taj Mahal itu ramai-ramai membeli perhiasan untuk menjadi mas kawin. Tak heran, penjualan emas di pasar Zaveri di Mumbai (pasar emas terbesar India) hingga Perth Mint di Australia, meningkat dua kali lipat dari pekan lalu.Inilah sedikit gambaran mengenai dampak aksi jual besar-besaran terhadap emas yang terjadi pada awal pekan lalu. Sekadar mengingatkan, harga emas sudah anjlok sebesar 13% dalam dua sesi hingga 15 April lalu. Kondisi tersebut mengantarkan pasar emas masuk ke dalam definisi pasar bearish karena sudah anjlok lebih dari 20% dari level rekor tertingginya yang tercipta pada Agustus 2011 lalu. Aksi beli emas saat harga murah sangat terlihat di India dan China. Maklum saja, kedua negara ini memang negara konsumen emas terbesar dunia. Tak heran jika mereka melihat penurunan besar terhadap emas sebagai kesempatan untuk membeli. "Budaya di Asia adalah mereka akan memburu emas fisik saat harganya jatuh. Permintaan perhiasan semakin membaik dan konsumen untuk industri ini juga membeli saat harganya turun dalam," jelas Dick Poon, general manager Heraeus Metals Hong Kong Ltd. Data yang dirilis All India Gems & Jeewellery Trade Federation menunjukkan, permintaan emas dalam beberapa hari terakhir merupakan yang terbesar di sepanjang tahun ini. "Kami membeli emas setelah dua tahun. Kami akan membeli lebih banyak lagi jika harganya turun lebih dalam," jelas Yogender Gyan, 29 tahun saat diwawancara di toko perhiasan Connaught Place di New Delhi. Di toko perhiasan ini, pelanggan yang datang lebih banyak ketimbang salesman dengan perbandingan 5:1. Situasi berbeda tampak di London. Hanya sedikit konsumen yang memasuki toko perhiasan seperti Baird & Co dan J Blundell & Sons Ltd saat jam makan siang kemarin. Pelanggan yang datang ke toko emas ATS Bullion juga terbilang sedikit karena jalan Strand ditutup dalam rangka pemakaman mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher.


Editor: Barratut Taqiyyah Rafie