KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas kembali menguat dan mencapai level tertinggi dalam sepekan pada Jumat (18/9/2026), meski Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS) masih memberikan sinyal kebijakan suku bunga yang ketat. Kenaikan harga emas terutama ditopang oleh penurunan harga minyak mentah yang berlangsung dalam tiga sesi berturut-turut. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi, sehingga investor kembali masuk ke aset logam mulia. Mengutip
Reuters, harga emas spot naik 0,9% menjadi US$ 4.378,97 per ons troi pada pukul 11.41 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 0,4% ke US$4.418,50 per ons troi.
Baca Juga: Harga Emas Naik, Disokong Pelemahan Dolar AS dan Harga Minyak Jelang Fed Rate Analis pasar utama Bybit Han Tan mengatakan, emas mampu mengabaikan sinyal
hawkish The Fed dan justru mendapat dorongan dari penurunan harga minyak. "Emas mendapat angin segar dari turunnya harga minyak dan harapan siklus kenaikan suku bunga The Fed akan terbatas," kata Han Tan. Harga minyak melemah untuk sesi ketiga berturut-turut. Pasar menilai kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Arab Saudi mulai mereda, meski konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian. Pergerakan emas tersebut terjadi setelah The Fed pada Rabu (16/9) memberikan sinyal masih terbuka untuk menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Suku bunga yang lebih tinggi secara umum dapat menekan daya tarik emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.
Baca Juga: UPDATE-Harga Emas Naik Lebih dari 1% Seiring Turunnya Harga Minyak Dunia Namun, Goldman Sachs masih mempertahankan proyeksi harga emas hingga akhir 2027 di level US$ 5.400 per ons troi. Bank investasi tersebut menilai kebijakan moneter yang lebih ketat kemungkinan lebih berdampak pada perlambatan kenaikan harga emas dalam jangka pendek, bukan menurunkan level harga akhirnya. Selain The Fed, Bank of Japan (BOJ) juga menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun. Langkah tersebut menunjukkan bank-bank sentral utama masih berupaya menekan tekanan inflasi yang persisten. Di sisi lain, perkembangan konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor penting bagi prospek harga emas. Jika konflik berkepanjangan dan harga minyak bertahan tinggi hingga tahun depan, bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga lebih tinggi dari perkiraan pasar. Ekonom iklim dan komoditas Capital Economics Hamad Hussain mengatakan kondisi tersebut justru dapat memberikan tekanan terhadap harga emas karena kenaikan suku bunga meningkatkan daya tarik aset berbasis imbal hasil.
Baca Juga: Emas Sentuh Level Terendah Dua Pekan, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi Selain emas, seluruh logam mulia juga bergerak menguat. Harga perak naik 2,8% menjadi US$67,03 per ons troi, platinum menguat 2,6% menjadi US$1.814,57 per ons troi, sedangkan paladium naik 3,2% menjadi US$1.331,95 per ons troi. Keempat logam mulia tersebut berada di jalur kenaikan secara mingguan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News