Emas Nyaris US$5.100! Ketidakpastian Trump Picu Lonjakan Safe Haven



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (27/1/2026), bertahan di dekat level psikologis US$5.100 per ons yang sempat ditembus untuk pertama kalinya pada sesi sebelumnya.

Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketidakpastian kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendorong investor mencari aset lindung nilai (safe haven).

Harga emas spot naik 1,2% menjadi US$5.073,52 per ons pada pukul 11.55 GMT, setelah mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.110,50 per ons pada Senin. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari turun tipis 0,2% menjadi US$5.071,20 per ons.


Analis MarketPulse by OANDA, Zain Vawda, mengatakan bahwa sikap bolak-balik pemerintahan Trump terkait kebijakan tarif, ditambah kekhawatiran akan potensi operasi militer di Iran, membuat permintaan emas sebagai aset aman diperkirakan tetap tinggi dalam waktu dekat.

Baca Juga: Demam Emas, Pembeli dan Penjual di China Masih Borong Emas Meski Harga Cetak Rekor

Sepanjang 2026, harga emas telah melonjak sekitar 18%, melanjutkan reli kuat tahun sebelumnya. Penguatan ini didorong oleh kombinasi permintaan safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, ekspektasi pemangkasan suku bunga AS, serta pembelian besar-besaran oleh bank sentral berbagai negara.

Dari sisi perdagangan internasional, Trump pada Senin menyatakan akan menaikkan tarif impor untuk mobil dan sejumlah barang lain dari Korea Selatan. Kebijakan ini menambah ketegangan dalam hubungan dagang AS dengan mitra utamanya di Asia.

Di sisi lain, seorang pejabat AS menyebut Washington tetap “terbuka untuk berbisnis” jika Iran ingin menjalin komunikasi, setelah Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran.

Prospek harga emas ke depan dinilai masih sangat kuat. Deutsche Bank dan Societe Generale memproyeksikan harga emas berpotensi menembus US$6.000 per ons pada 2026, menunjukkan ruang kenaikan yang masih besar.

Fokus pasar kini tertuju pada pertemuan kebijakan Federal Reserve yang dimulai Selasa. Bank sentral AS diperkirakan akan menahan suku bunga tetap, sementara pelaku pasar juga menanti perkembangan terkait pengganti Ketua The Fed Jerome Powell.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya

Tak hanya emas, harga perak juga melonjak tajam. Perak spot naik 7,4% menjadi US$111,59 per ons, setelah mencetak rekor tertinggi US$117,69 pada sesi sebelumnya. Sepanjang tahun ini, harga perak telah meroket lebih dari 50%.

Baca Juga: Emas Tembus Rekor, Begini Proyeksi Morgan Stanley hingga Paruh Kedua 2026

Namun, BMI, unit riset dari Fitch Solutions, memperkirakan harga perak berpotensi terkoreksi dalam beberapa bulan ke depan seiring meredanya keketatan pasokan dan mulai melambatnya permintaan industri, terutama dari China daratan yang ekonominya menunjukkan perlambatan.

Sementara itu, platinum spot turun 3,1% menjadi US$2.673,50 per ons setelah sebelumnya menyentuh rekor US$2.918,80. Berbeda dengan platinum, harga palladium justru naik 2,2% ke level US$2.025,60 per ons.

Lonjakan harga logam mulia secara keseluruhan mencerminkan tingginya kekhawatiran pelaku pasar terhadap dinamika geopolitik, kebijakan perdagangan AS, serta arah kebijakan moneter global.

Selanjutnya: Hujan Sejak Dini Hari, Simak Prakiraan BMKG Cuaca Besok (28/1) di Jakarta

Menarik Dibaca: Hujan Sejak Dini Hari, Simak Prakiraan BMKG Cuaca Besok (28/1) di Jakarta