Emas Rebound 1% Didukung Aksi Beli Jelang Data Inflasi AS, Perak dan Platinum Menguat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan Jumat (13/2/2026), setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam hampir sepekan.

Kenaikan ini dipicu aksi beli saat harga turun (bargain hunting), sementara pelaku pasar menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dinilai krusial bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.

Harga Emas Naik Lebih dari 1%

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 10.00 GMT, harga emas spot menguat 1% ke level US$ 4.969,85 per ons troi. Secara mingguan, emas telah mencatat kenaikan sekitar 0,2%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April turut naik 0,9% ke posisi US$ 4.990,30 per ons troi.


Ekonom iklim dan komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, menyatakan bahwa aksi beli di kawasan Asia menjadi salah satu faktor utama yang mendorong rebound harga emas.

Baca Juga: Harga Emas Bangkit, Investor Masih Menanti Data Inflasi AS

“Pembelian saat harga turun oleh pelaku pasar di Asia, di mana permintaan emas sangat kuat, tampaknya menjadi pendorong utama pemulihan harga emas,” ujarnya.

Permintaan China Kuat, India Melemah

Permintaan emas di China terpantau solid menjelang libur Tahun Baru Imlek. Tradisi pembelian emas menjelang perayaan tersebut menjadi salah satu faktor penopang harga global.

Sebaliknya, pasar emas India justru mencatatkan diskon untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir. Permintaan di negara tersebut melemah karena volatilitas harga yang tinggi membuat konsumen menunda pembelian.

Pada perdagangan Kamis, harga emas sempat anjlok sekitar 3% ke level terendah dalam hampir satu pekan. Pelemahan ini dipicu data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari ekspektasi, sehingga meredam harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh The Fed.

Data yang dirilis pada Rabu menunjukkan bahwa AS menambah 130.000 lapangan kerja pada Januari, jauh di atas proyeksi analis yang memperkirakan penambahan sekitar 70.000 pekerjaan.

Penurunan harga emas semakin dalam setelah menembus level psikologis US$ 5.000 per ons troi, memicu tekanan jual lanjutan di pasar.

Prospek Emas Tetap Positif

Kendati demikian, analis independen Ross Norman menilai pergerakan harga emas saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental pasar.

“Pergerakan harga tampaknya tidak sepenuhnya didorong oleh fundamental pasar, tetapi fundamental logam mulia secara keseluruhan masih tetap positif,” jelasnya.

Baca Juga: Emas dan Perak Rebound Usai Rontok, Data AS Tahan Laju Pemangkasan Bunga

Analis ANZ bahkan menaikkan proyeksi harga emas untuk kuartal II menjadi US$ 5.800 per ons troi, dari sebelumnya US$ 5.400. Mereka menilai emas tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven) di tengah berbagai ketidakpastian global, termasuk risiko geopolitik dan prospek ekonomi dunia.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS yang dijadwalkan pada Jumat waktu setempat. Data ini akan menjadi indikator penting untuk menilai kesehatan pasar tenaga kerja dan peluang pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini.

Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), emas cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga rendah.

Harga Perak, Platinum, dan Palladium

Selain emas, harga logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak spot melonjak 3,9% menjadi US$ 78,11 per ons troi, setelah sebelumnya merosot hingga 11% pada sesi perdagangan sebelumnya. Secara mingguan, perak berpotensi mencatat kenaikan sekitar 0,8%.

Sementara itu, harga platinum spot naik 1,4% ke level US$ 2.027,60 per ons troi, dan palladium menguat 1,7% menjadi US$ 1.644,24 per ons troi. Meski demikian, kedua logam tersebut masih berada di jalur pelemahan secara mingguan.

Dengan dinamika data ekonomi AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan harga emas dan logam mulia lainnya diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek.

Selanjutnya: Kemenkeu Anggarkan THR ASN, TNI/Polri Naik Jadi Rp 55 Triliun pada 2026

Menarik Dibaca: Pasar Kripto Rebound, Pantau 5 Kripto Top Gainers 24 Jam Terakhir!