KONTAN.CO.ID - Harga emas dan perak bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Selasa (20/1/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar global akibat manuver Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait Greenland yang mendorong investor memburu aset lindung nilai (
safe haven). Melansir
Reuters, harga emas spot tercatat stabil di level US$ 4.671,54 per ons troi pada pukul 01.18 GMT, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa US$ 4.689,39 per ons troi pada sesi sebelumnya. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Februari naik 1,8% ke US$ 4.676,80 per ons troi.
Baca Juga: Imbal Hasil US Treasury Naik ke Level Tertinggi Beberapa Bulan, Dipicu Ancaman Trump Di sisi lain, harga perak spot justru turun 1,2% ke US$ 93,53 per ons troi, setelah sempat mencetak rekor tertinggi di US$ 94,72 per ons troi lebih awal pada sesi perdagangan. Tekanan geopolitik kembali meningkat setelah Trump mengintensifkan upayanya untuk mengambil alih kedaulatan Greenland dari Denmark, yang juga merupakan sesama anggota NATO. Langkah ini mendorong Uni Eropa mempertimbangkan tindakan balasan berupa kebijakan ekonomi dan perdagangan. Ketegangan tersebut turut menekan nilai tukar dolar AS yang turun ke level terendah dalam sepekan, setelah ancaman dari Gedung Putih terhadap Uni Eropa memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham dan obligasi pemerintah AS.
Baca Juga: Bank Sentral China (PBOC) Tahan Suku Bunga Acuan untuk Kedelapan Kalinya Kondisi ini membuat investor berbondong-bondong masuk ke aset aman seperti emas, yen Jepang, dan franc Swiss, untuk menghindari risiko meningkatnya konflik dagang. Pasar khawatir akan kembalinya volatilitas seperti pada perang dagang 2025, yang baru mereda setelah tercapainya kesepakatan tarif di pertengahan tahun tersebut. Dari sisi fundamental global, Dana Moneter Internasional (IMF) kembali sedikit menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 pada Senin (19/1), seiring kemampuan dunia usaha dan perekonomian beradaptasi dengan kebijakan tarif AS. Sementara itu, ekonomi China tumbuh 5,0% sepanjang tahun lalu, sesuai target pemerintah, dengan mengandalkan peningkatan ekspor untuk menutupi lemahnya konsumsi domestik. Namun, strategi ini dinilai semakin sulit dipertahankan ke depan. Pada hari yang sama, Bank Sentral China (PBOC) mempertahankan suku bunga acuan Loan Prime Rate (LPR) untuk bulan kedelapan berturut-turut, sesuai ekspektasi pasar.
Baca Juga: TV Pemerintah Iran Diretas! Pesan Putra Mahkota Gemparkan Publik Di Amerika Serikat, pasar juga menyoroti uji paling krusial terhadap independensi Federal Reserve dalam lebih dari satu abad, yang tengah bergulir di Mahkamah Agung AS.
Dari sisi arus investasi, SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia, mencatatkan kenaikan kepemilikan sebesar 1,01% menjadi 1.085,67 metrik ton pada Jumat lalu. Adapun logam mulia lainnya bergerak melemah, dengan platina spot turun 0,6% ke US$ 2.359,45 per ons, sementara paladium merosot 1,3% ke US$ 1.817,44 per ons.