Emas Sulit Tembus US$ 5.000, Ini Faktor Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas masih berada dalam tekanan dan berpotensi melanjutkan pelemahan seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Namun kondisi ini justru mendorong lonjakan harga energi global dan ekspektasi suku bunga tinggi.

Mengutip data Trading Economics pada Rabu (29/4) pukul 17.17 WIB, harga emas turun 0,51% menjadi US$ 4.572 per ons troi. Sementara itu, harga perak melemah 0,19% ke level US$ 72,90 per ons troi.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai, memudarnya ekspektasi perdamaian di kawasan Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga energi.


Baca Juga: Laba Nusantara Sawit (NSSS) Turun 12,57%, Kala Penjualan Naik di Kuartal I 2026

"Menurunnya ekspektasi perdamaian di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak yang pada akhirnya memicu inflasi dan memperkuat prospek kenaikan suku bunga," ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (29/4/2026).

Tekanan dari sisi suku bunga tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset).

Dalam kondisi suku bunga tinggi dan dolar AS yang menguat, daya tarik emas cenderung menurun.

Menurut Lukman, kenaikan harga emas yang sempat terjadi dalam perdagangan harian lebih bersifat technical rebound dan aksi bargain hunting, sehingga belum mencerminkan perubahan tren.

Bahkan, ia menegaskan secara teknikal, harga emas masih berpotensi turun lebih jauh.

Untuk jangka pendek, terutama pada Mei 2026, harga emas diperkirakan bergerak di kisaran US$ 4.600 hingga US$ 4.800 per ons troi. Sementara itu, harga perak diproyeksikan berada di rentang US$ 70 hingga US$ 80 per ons troi.

Dalam jangka menengah, Lukman menilai harga emas akan sulit menembus level psikologis US$ 5.000 per ons troi jika belum ada perkembangan signifikan terkait prospek perdamaian di Timur Tengah.

Ia memperkirakan pergerakan emas akan berada di kisaran US$ 4.400 hingga US$ 4.800 per ons troi.

Baca Juga: JPFA Dibayangi Kenaikan Biaya Produksi, Margin Terancam Tertekan pada 2026

Secara historis, emas memang pernah mengalami koreksi dalam.

Pada 2020, harga emas sempat turun sekitar 19% dari US$ 2.075 ke US$ 1.680 per ons troi. Bahkan, pada periode 2011–2013, emas terkoreksi hingga 45% dari US$ 1.920 ke US$ 1.050 per ons troi.

Namun demikian, Lukman menilai siklus bullish emas saat ini masih terjaga.

"Iya itu salah satu siklus emas. Untuk kondisi saat ini, diperkirakan tidak dan tren bullish masih intact," kata Lukman.

Dari sisi strategi, investor disarankan menyesuaikan pendekatan dengan kondisi pasar yang masih fluktuatif.

Untuk jangka pendek hingga menengah, peluang dapat dimanfaatkan melalui strategi range trading, yakni membeli saat harga rendah dan menjual saat harga tinggi.

Sementara itu, bagi investor jangka panjang, koreksi harga saat ini dinilai sebagai momentum untuk melakukan akumulasi bertahap.

"Untuk jangka pendek hingga menengah bisa memanfaatkan range trading. Sedangkan jangka panjang, akumulasi saat harga turun," tutupnya.

Baca Juga: Outlook Negatif Fitch dan Arab Keluar dari OPEC Tekan Rupiah ke Rekor Terlemah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News