KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas kembali menunjukkan reli kuat setelah mencetak rekor tertinggi di atas US$5.000 per ons. Bank investasi asal Amerika Serikat, Morgan Stanley, menilai penguatan logam mulia ini belum mencapai puncaknya dan masih memiliki ruang kenaikan dalam beberapa bulan ke depan. Pada perdagangan Senin, harga emas kembali menguat seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah kekhawatiran potensi penutupan operasional pemerintah Amerika Serikat (government shutdown) di akhir bulan.
Hingga waktu penulisan, harga emas tercatat di level US$5.901 per ons, naik lebih dari 2% dalam sehari. Secara year to date, emas telah menguat hampir 18%.
Baca Juga: Emas dan Perak Makin Berkilau, Kembali Dekati Level Tertinggi Sepanjang Masa Morgan Stanley Pasang Target Bullish
Dalam proyeksi terbarunya, Morgan Stanley memasang target harga emas yang lebih tinggi, yakni mencapai US$5.700 per ons pada paruh kedua 2026. Proyeksi ini didukung oleh berlanjutnya risiko geopolitik global, tingginya permintaan dari bank sentral, serta derasnya aliran dana investor ke instrumen emas. Menurut Morgan Stanley, harga emas saat ini bahkan telah melampaui proyeksi sebelumnya untuk paruh kedua tahun yang sama, yakni di level US$4.750 per ons. Meski demikian, bank tersebut tidak melihat tanda-tanda bahwa reli emas telah berakhir. Sebaliknya, pergerakan harga saat ini dinilai sebagai bagian dari tren kenaikan struktural yang didorong oleh ketidakpastian global yang persisten.
Permintaan Bank Sentral dan ETF Perketat Pasokan
Morgan Stanley menekankan bahwa permintaan dari bank sentral tetap menjadi pilar utama penopang harga emas. Selain itu, arus masuk dana yang kuat ke exchange-traded funds (ETF) berbasis emas turut menyerap pasokan yang terbatas di pasar, setelah beberapa tahun mengalami defisit pasokan. Kondisi ini memperketat ketersediaan emas fisik di pasar dan semakin memperkuat momentum kenaikan harga. Ditambah lagi, pelemahan dolar AS memberikan sentimen positif tambahan bagi harga emas di pasar global.
Baca Juga: Emas dan Perak Dekati Rekor Tertinggi Selasa (27/1), Permintaan Aset Aman Masih Kuat Secara keseluruhan, kombinasi faktor tersebut menjadi dasar pandangan bullish Morgan Stanley, yang memperkirakan masih ada potensi kenaikan sekitar 14% dari level harga saat ini.
Kekhawatiran Fiskal AS Dorong Permintaan Safe Haven
Kenaikan harga emas juga diperkuat oleh meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah kekhawatiran stabilitas fiskal Amerika Serikat. Ketegangan politik terkait pendanaan pemerintah federal meningkatkan risiko terjadinya government shutdown, yang secara historis mendorong investor beralih ke aset defensif seperti emas.
Tidak hanya emas, Morgan Stanley juga mencatat penguatan di sektor logam mulia lainnya. Perak, misalnya, menunjukkan tanda-tanda keterbatasan pasokan fisik, terutama di pasar Asia. Hal ini mencerminkan kuatnya permintaan mendasar di sektor logam mulia secara keseluruhan. Dengan latar belakang ketidakpastian global, tekanan geopolitik, serta dinamika fiskal AS, Morgan Stanley menilai emas masih akan menjadi primadona investor dalam waktu mendatang.