KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia kembali mencatatkan penguatan pada perdagangan Kamis (waktu setempat), setelah melonjak lebih dari 2% pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong investor memburu aset safe haven, di tengah evaluasi arah kebijakan moneter bank sentral AS. Berdasarkan data pasar, harga emas spot naik 0,2% ke level US$ 4.989,09 per ons pada pukul 12.27 GMT. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April relatif stabil di posisi US$ 5.008,60 per ons.
Analis pasar dari Nemo.money, Jamie Dutta, menyebut kekhawatiran geopolitik menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar saat ini. “Geopolitical concerns are front and centre with reports that, if the U.S. were to take military action against Iran, it could go on for several weeks,” ujarnya.
Baca Juga: Emas Melemah Usai Reli 2% Kamis (19/2), Dolar Menguat Jelang Data Inflasi AS Pernyataan tersebut muncul di tengah perkembangan perundingan Iran yang digelar di Jenewa pekan ini. Gedung Putih pada Rabu (waktu setempat) menyatakan bahwa terdapat sejumlah kemajuan dalam pembicaraan tersebut, namun masih ada perbedaan signifikan pada beberapa isu krusial. Selain itu, penasihat keamanan nasional utama AS menggelar pertemuan di Situation Room Gedung Putih untuk membahas situasi Iran. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan bahwa seluruh kekuatan militer AS yang dikerahkan ke kawasan Timur Tengah ditargetkan telah siap pada pertengahan Maret.
The Fed Bersatu Tahan Suku Bunga
Di sisi kebijakan moneter, risalah rapat Januari bank sentral AS, Federal Reserve, menunjukkan mayoritas pejabat sepakat untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Namun, terdapat perbedaan pandangan mengenai langkah berikutnya. Beberapa pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap tinggi, sementara sebagian lainnya cenderung mendukung pemangkasan suku bunga lebih lanjut jika tekanan inflasi mereda. Pelaku pasar kini menanti rilis data klaim pengangguran mingguan serta laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Jumat, yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed. Data-data ini dinilai krusial untuk memberikan petunjuk tambahan terkait arah kebijakan moneter AS. Berdasarkan proyeksi pasar yang dihimpun oleh CME FedWatch Tool, pemangkasan suku bunga pertama tahun ini diperkirakan terjadi pada Juni. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga rendah karena biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih kecil.
Baca Juga: Harga Emas Melonjak Lebih dari 2% Rabu (18/2), di Tengah Ketegangan Geopolitik Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Tak hanya emas, harga perak spot turut menguat 0,9% menjadi US$ 77,87 per ons setelah melonjak lebih dari 5% pada perdagangan sebelumnya. Kepala strategi komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen, menilai perak mendapat dukungan dari ketatnya pasokan dan rendahnya stok di COMEX menjelang periode pengiriman kontrak Maret. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perak belum sepenuhnya kembali ke zona aman. “Namun, mengingat besarnya koreksi historis pada awal bulan ini, perak belum benar-benar berada di posisi aman hingga mampu kembali diperdagangkan di atas US$ 86,” ujarnya.
Sementara itu, harga platinum spot melemah 0,6% menjadi US$ 2.059,55 per ons, dan palladium turun 1,7% ke level US$ 1.686,47 per ons. Secara keseluruhan, dinamika harga logam mulia saat ini sangat dipengaruhi kombinasi faktor geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter AS. Ketidakpastian terkait konflik AS–Iran dan arah suku bunga The Fed berpotensi terus menjadi katalis utama pergerakan emas dalam jangka pendek.