KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan global masih membayangi kinerja berbagai instrumen investasi di awal 2026. Geopolitik yang memanas hingga risiko domestik seperti ketidakpastian kebijakan fiskal dan pergerakan nilai tukar rupiah menjadi sentimen utama yang memengaruhi arah pasar. Alhasil, kinerja instrumen investasi bergerak variatif sepanjang Maret 2026.
Di tengah kondisi tersebut, emas yang biasanya menjadi andalan justru mencatatkan pelemahan terdalam. Berdasarkan data Bloomberg per akhir Maret 2026, emas spot membukukan return minus 11,5% secara bulanan (MoM) dan turun 1,4% sejak awal tahun (YtD). Emas Antam juga terkoreksi 7,16% MoM dan melemah 1,1% YtD. Tekanan juga terjadi di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 14,4% MoM dan 15,4% YtD.
Baca Juga: Simak Strategi Investasi Saham di Tengah Volatilitas IHSG Sementara itu, obligasi korporasi dan pemerintah masing-masing mencatatkan return minus 1,21% dan 2,08% secara bulanan. Di sisi lain, nilai tukar USD/IDR justru menguat dengan return positif 1,5% MoM. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai, gejolak geopolitik menjadi katalis utama yang menekan hampir seluruh kelas aset. "Boleh dibilang semua asset mengalami penurunan yang besar di bulan Maret setelah Iran menutup selat Hormuz, melonjakkan harga minyak mentah dunia dan memicu potensi stagflasi ekonomi dunia," ujar Lukman saat dihubungi Kontan, Kamis (2/4/2026). Selain itu, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) akibat ekspektasi kenaikan suku bunga turut menekan kinerja berbagai instrumen investasi. Di tengah tekanan tersebut, emas yang sebelumnya mencatatkan reli panjang sejak awal tahun kini terkoreksi. Namun, Lukman menilai kondisi ini wajar sebagai bagian dari konsolidasi. “Penurunan emas ini wajar menyusul rally yang cukup panjang dan kenaikan fantastis di awal 2026,” tambah Lukman. Meski demikian, Lukman tetap memandang prospek jangka panjang emas masih bullish. Ia menilai pelemahan saat ini bisa menjadi momentum akumulasi bagi investor. Ia memperkirakan harga emas spot berpotensi mencapai US$ 5.700 - US$ 6.000 per ons troi atau naik sekitar 20%-30% di 2026. Sementara itu, emas Antam diproyeksikan berada di kisaran Rp 3,4 juta hingga Rp 3,7 juta per gram.
Baca Juga: Harga Emas Mulai Rebound, Analis Sarankan Strategi Investasi Bertahap Senada, Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto menilai pergerakan return yang beragam tidak lepas dari tingginya ketidakpastian global. Menurut Eko, return investasi selalu berkaitan dengan risiko. Ketika risiko belum bisa diantisipasi, maka pergerakan hasil investasi juga menjadi tidak menentu. Ia menambahkan, kondisi global yang belum jelas arah serta tekanan domestik membuat fluktuasi pasar menjadi hal yang wajar. Di tengah ketidakpastian tersebut, sebagian investor mulai mencari alternatif investasi. Kripto menjadi salah satu pilihan, terutama setelah sebelumnya mengalami penurunan cukup dalam. “Ketika mata uang tidak menjanjikan dan investasi fisik diragukan, investor mencoba aset non-fisik seperti kripto. Apalagi kripto sebelumnya sudah turun cukup dalam,” jelas Eko. Hal ini tercermin dari kinerja kripto yang mulai pulih pada Maret 2026. Bitcoin mencatatkan return positif 4,3% MoM, meski masih turun 16,34% YtD. Ethereum bahkan menguat 10,2% MoM dengan posisi YtD masih minus 16,9%. Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, menilai penguatan kripto di Maret ini lebih didorong oleh aksi akumulasi pelaku pasar saat harga rendah. Investor memanfaatkan koreksi dalam sebagai peluang masuk, sehingga memicu pemulihan sementara. Selain itu, peluncuran produk ETF kripto oleh BlackRock turut memberikan sentimen positif. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penguatan ini belum didukung katalis yang kuat. “Pemulihan ini diperkirakan tidak dapat bertahan lama karena belum adanya katalis yang mendukung tren naik berkelanjutan,” tutur Christopher. Ia bahkan memperkirakan Bitcoin berpotensi kembali bergerak di kisaran US$ 45.000 - US$ 50.000 sepanjang 2026. Sementara Ethereum diproyeksikan berada di rentang US$ 1.300 - US$ 1.600.
Baca Juga: Strategi Investasi 2026: Fokus Cash, Emas, dan Blue Chip di Tengah Volatilitas Di tengah ketidakpastian yang masih tinggi, investor perlu menerapkan strategi pengelolaan portofolio yang disiplin. CEO dan Founder PT Solusi Finansialku Indonesia, Melvin Mumpuni menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara emosi dan rasionalitas. Menurutnya, fenomena loss aversion atau rasa takut rugi berlebih adalah hal yang wajar, namun investor tetap harus objektif dalam mengambil keputusan. “Di tengah kondisi yang tidak pasti ini, investor harus tetap objektif dan fokus pada hal yang bisa dikontrol, yaitu menjaga arus kas (cash flow) dan melakukan rebalancing portofolio secara disiplin,” terang Melvin. Melvin menyarankan diversifikasi portofolio sesuai profil risiko. Untuk investor dengan profil konservatif, sekitar 40% bisa ditaruh di instrumen likuid seperti tabungan, deposito, reksadana pasar uang, serta emas fisik maupun digital. Kemudian 40% ditempatkan pada instrumen berpendapatan tetap (fixed income), dan sisanya dialokasikan ke saham berfundamental kuat seperti blue chip atau saham dengan dividen.
Sementara itu, bagi investor dengan profil moderat, alokasi portofolio dapat dibagi menjadi 25% pada aset likuid, 40% pada instrumen pendapatan tetap, dan 35% pada saham bertipe value stock atau saham dividen. Adapun untuk investor agresif, Melvin merekomendasikan sekitar 50% ditempatkan pada saham value dan dividen, 25% pada instrumen pendapatan tetap, serta 20% pada aset likuid. Sisanya sekitar 5% dapat dialokasikan ke aset kripto sebagai instrumen berisiko tinggi.
Baca Juga: Inflasi 10 Tahun Tembus 32%, Begini Strategi Portofolio Agar Return Tak Tergerus Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News