Emil Salim Ajak Masyarakat Mencintai Alam dan Menjaganya dari Pencemaran Lingkungan



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pakar lingkungan, Prof Dr Emil Salim melalui diskusi Kompas Talks bersama Greenpeace “Transisi Menuju Ekonomi Hijau: Praktik dan Eksplorasi” mengajak manusia, masyarakat Indonesia melihat alam sebagai guru, subyek yang perlu dipelajari, dimengerti dan dilindungi dari pencemaran.

Dalam diskusi publik yang dilaksanakan daring pada Rabu (16/3) Emil menceritakan bagaimana perbedaan cara pandang manusia terhadap alam pada saat pra revolusi industri dan masa revolusi industri hingga saat ini.

Pada abad ke 8 cara manusia melihat alam adalah sebagai subyek untuk belajar. Dalam diskusi itu Emil bercerita. Pada abad ke 8 lahir tokoh Ibnu Sina, seorang yang mempelajari alam, tokoh yang memegang peranan penting di dunia kesehatan dengan salah satu penelitianya yaitu zat clorofil yang penting bagi kesehatan manusia.


Selanjutnya, Emil melanjutkan tokoh penting lain yang belajar dari alam yaitu Al-Khawarizmi yang menanyakan perihal bagaimana cara mengetahui kita sholat harus menghadap ke ka’bah sedangkan Al-khawarizmi tidak dapat melihat mekah.

Baca Juga: Jaga Ekosistem Laut, PJB dan Kementerian LHK Bersihkan Pantai Tanjung Pasir

Maka Al-Khawarizmi melihat ke bintang yang terletak di atas mekah kemudian menghitung garis vertikal dan horizontal. Dari situ lahir trigeonometri hingga ilmu ilmu aljabar dikembangkan olehnya.

“Ringkasnya pada abad tersebut manusia yang melihat alam dan bertanya kenapa Tuhan menciptakan alam ini mereka mempelajarinya dan alam dijadikan subjek, alam dijadikan penentu, dan alam dijadikan guru,” ucap Emil.

Sementara itu ,1.000 tahun kemudian, Emil menceritakan, bahwa ada perubahan terhadap cara pandang manusia terhadap alam. Pada masa masa ini dikenal sebagai revolusi industri. Lahirlah temuan baru seperti mesin uap. Uap merupakan energi baru pada padanya yang diciptakan oleh manusia.

“Terlihat perbedaan bagaimana periode revolusi industri sampai saat ini manusia fokus untuk menundukkan alam sebagai obyek dengan ilmu science dan teknologi yang berbeda Pada periode sebelumnya alam sebagai subyek yang dipelajari mengikuti rumusan agama, dipahami apa yang diciptakan tuhan di alam,” tutur Emil.

Baca Juga: KLHK Tindak Pengelola Pembuangan Sampah Ilegal di Bekasi

Emil menegaskan ekonomi hijau adalah ekonomi alami, hakikat ekonomi yang diciptakan oleh alam. Maka jika Indonesia ingin kembali menciptakan ekonomi hijau harus kembali ke basis filosofis religius yang perlu dikembangkan di tanah air yang sesuai dengan pancasila. Kembali ke sifat fitri manusia menghargai alam sebagai ciptaan tuhan ilahi dan memanfaatkan alam untuk kesejahteraan manusia tanpa merusak alam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News