Emiten BUMN Karya Masih Rapuh, Simak Prospeknya di Semester II 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten BUMN karya dinilai masih rapuh sepanjang enam bulan pertama tahun 2026. Tren kinerja mereka pun dinilai berlanjut hingga akhir tahun ini.

Sejumlah emiten BUMN karya mencatatkan kinerja yang beragam sepanjang semester I 2026. Laba bersih PT PP Tbk (PTPP) melonjak di tengah penurunan pendapatan sepanjang Januari-Juni 2026. 

PTPP mengantongi pendapatan usaha sebesar Rp 5,95 triliun per kuartal II 2026, turun 11,2% dari Rp 6,7 triliun di periode sama tahun lalu. Sementara, laba bersih menjadi Rp 193,46 miliar, naik 196,5% YoY.


Baca Juga: Pidato Presiden Prabowo Bikin IHSG Rebound 1,59%, Bisakah IHSG Lanjut Menguat?

Corporate Secretary PTPP Joko Raharjo menjelaskan, laba komprehensif tahun berjalan PTPP di periode ini sebesar Rp68,4 miliar, naik 24% YoY. 

“Kenaikan laba komprehensif disebabkan oleh kenaikan penghasilan komprehensif lain yang diatribusikan pemilik entitas induk yang naik sebesar 264,2% secara YoY menjadi Rp247,6 miliar," katanya kepada Kontan.

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) senasib.pendapatan usaha ADHI tercatat Rp 3,11 triliun per Juni 2026. Ini turun 18,35% dari Rp 3,81 triliun dari periode sama tahun lalu. Namun, ADHI mengantongi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 8,49 miliar per Juni 2026, naik 12,56% YoY. 

Direktur Portofolio Bisnis & Risiko ADHI, Rozi Sparta mengatakan, laba ADHI meningkat karena adanya peningkatan margin laba kotor akibat klaim atas interest during payment dari proyek LRT Jabodebek.

“Sedangkan pendapatan ADHI turun dikarenakan adanya penurunan produksi untuk proyek-proyek besar ADHI yang hampir selesai yaitu Tol Solo Jogja, Tol Jogja Bawen dan Pusri," ujarnya kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).

Di sisi lain, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) masih mengantongi rugi bersih Rp 1,91 triliun per semester I 2026, turun 16,96% dari rugi bersih Rp 2,3 triliun pada periode sama tahun lalu.

Padahal, pendapatan usaha tercatat Rp 4,91 triliun sepanjang semester I 2026, naik 58,49% YoY. Salah satu penyebabnya dari beban pokok pendapatan yang tercatat Rp 4,41 triliun di akhir Juni 2026

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) memang belum menyampaikan laporan keuangan per 30 Juni 2026. Namun, beban dari Whoosh menjadi masalah utama ke kinerjanya.

Per kuartal I 2026 saja, WIKA menanggung cost overrun Rp 5,02 triliun dan harus menderita rugi Rp 1,8 triliun per tahun dari KCIC. 

Meskipun induknya masih merugi, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) justru berhasil cetak laba. WTON membukukan laba bersih sebesar Rp 4,74 miliar pada semester I-2026

Sekretaris Perusahaan WIKA Beton, Ignatius Harry mengatakan, raihan ini meningkat 9,14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Baca Juga: Harga Emas Berpotensi Cetak Rekor Baru hingga US$ 6.000 per Ons Troi

Sayangnya, pendapatan bersih tercatat turun dari Rp 1,56 triliun menjadi Rp 1,48 triliun per semester I-2026.

“Pertumbuhan laba tersebut ditopang efisiensi operasional melalui implementasi sistem digital berbasis Enterprise Resource Planning (ERP) dan divestasi aset nonproduktif,” ujarnya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, kinerja emiten BUMN Karya pada semester I 2026 memperlihatkan divergensi yang semakin jelas, di mana kinerja operasional sangat ditentukan oleh fase restrukturisasi serta struktur modal masing-masing emiten. 

ADHI dan PTPP serta anak usaha spesialis, seperti WTON, masih membukukan pertumbuhan laba bersih. Kinerja mereka ditopang oleh efisiensi operasional, eksposur pada proyek-proyek APBN atau pemerintah dengan skema pembayaran lancar, serta arus kas operasi yang terkelola.

Sementara, WIKA dan WSKT masih menghadapi tantangan berat akibat tingginya beban keuangan (cost of fund) serta sisa pengerjaan proyek-proyek lama ber-margin rendah. 

Khusus WIKA, ekosistem beban pinjaman dan kewajiban terkait proyek infrastruktur strategis, seperti konsorsium Kereta Cepat Whoosh, masih memberi tekanan signifikan pada pos beban non-operasional. 

“Perbedaan porsi kewajiban berbunga (interest-bearing debt) menjadi pembeda utama antara emiten yang sudah cetak laba dan yang masih rugi,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas melihat, kinerja BUMN karya pada semester I 2026 masih cenderung mixed. 

PTPP, ADHI, dan WTON mencatatkan pertumbuhan laba didukung efisiensi dan selektivitas proyek. Sementara, WIKA per kuartal I lun masih menghadapi tekanan dari beban keuangan dan arus kas. 

“Fokus utama sektor saat ini adalah perbaikan neraca dan likuiditas, sehingga proses merger berpotensi bergeser apabila restrukturisasi belum sepenuhnya selesai,” ungkapnya kepada Kontan, Jumat (14/8/2026).

Nafan melihat, ada sejumlah sentimen positif yang memengaruhi kinerja emiten BUMN karya di semester II 2026.

Pertama, belanja pemerintah dan proyek strategis nasional dapat meningkatkan order book. Kedua, percepatan proyek IKN dan infrastruktur tetap menjadi katalis.

Ketiga, potensi penurunan suku bunga dapat membantu menekan biaya keuangan. Keempat, restrukturisasi utang dan divestasi aset non-core dapat memperbaiki likuiditas.

Kelima, dukungan Danantara/Himbara dapat meningkatkan akses pendanaan untuk proyek yang bankable. 

“Terakhir, konsolidasi BUMN Karya dalam jangka menengah berpotensi menghasilkan efisiensi dan mengurangi persaingan internal,” ungkapnya.

Sementara, sentimen negatifnya tetap cukup berat. Sebut saja, cash flow from operation masih menjadi persoalan, leverage masih tinggi, kewajiban jatuh tempo tetap harus diperhatikan.

Lalu, pembayaran termin proyek pemerintah dapat mengalami timing mismatch, margin konstruksi masih tipis, serta restrukturisasi dapat membutuhkan waktu.

“Untuk WIKA, beban dan kewajiban terkait proyek Whoosh menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati,” paparnya.

Nafan melihat, peran Danantara menjadi katalis struktural yang penting dalam restrukturisasi emiten BUMN karya, tetapi dampaknya belum langsung terlihat di laba semester I-2026. 

Danantara sejak awal 2026 memang melakukan governance reset, evaluasi kualitas aset, kebijakan akuntansi, pencadangan, serta penguatan manajemen risiko pada kelompok BUMN Karya. 

“Artinya, Danantara tidak semata-mata berfungsi sebagai sumber dana, tetapi lebih sebagai arsitek restrukturisasi,” ungkapnya.

Nafan menyarankan investor untuk memerhatikan lima indikator dalam melihat masalah BUMN karya ke depan. Yaitu, arus kas operasi, utang, kualitas kontrak baru, perkembangan restrukturisasi dan merger, serta kualitas laba.

Nafan masih merekomendasikan wait and see untuk ADHI dan PTPP.

Sukarno melihat, prospek semester II diperkirakan membaik seiring peningkatan progres proyek infrastruktur, program perumahan, dan dukungan restrukturisasi melalui Danantara. 

Namun, tingginya biaya pendanaan, kebutuhan modal kerja, dan risiko keterlambatan pembayaran proyek masih menjadi tantangan utama. 

Dari sisi fundamental, kami melihat PTPP dan WTON memiliki posisi paling kuat berkat neraca yang relatif lebih sehat. 

“ADHI berpotensi melanjutkan pemulihan, sedangkan WIKA masih membutuhkan waktu untuk memperbaiki leverage dan arus kas,” tuturnya.

Di kondisi saat ini, investor perlu mencermati arus kas operasional, posisi utang, kualitas piutang proyek, dan progres restrukturisasi. 

“Dalam fase saat ini, perbaikan likuiditas lebih penting dibanding pertumbuhan pendapatan,” paparnya.

Sukarno pun merekomendasikan trading buy untuk PTPP dan ADHI dengan target harga masing-masing Rp 240 - Rp 260 per saham dan Rp 175 per saham.

Baca Juga: Prabowo Janjikan Arah Ekonomi Lebih Jelas, Pelaku Pasar Masih Tunggu Eksekusi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News