KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten BUMN mulai menunjukkan perbaikan kinerja seiring program restrukturisasi yang dijalankan oleh BPI Danantara dalam beberapa waktu terakhir. Beberapa di antaranya bahkan berhasil berbalik dari rugi menjadi laba pada kuartal I-2026, seperti PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), hingga PT Adhi Karya Tbk (ADHI). Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai, tren turnaround ini memang menjanjikan, namun masih perlu dicermati dari sisi keberlanjutannya.
“Turnaround kuartal I menjanjikan, tapi laba yang kecil rawan reversal. Keberlanjutan butuh efisiensi yang struktural dan pertumbuhan top line,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).
Baca Juga: Penjualan Emiten Berpotensi Tertekan Imbas Penurunan Keyakinan Konsumen Ia menjelaskan, dampak program efisiensi dan restrukturisasi terhadap laba bersih umumnya baru akan terasa penuh dalam 2-3 kuartal setelah implementasi. “Efisiensi masih perlu dicermati berapa yang sudah
realized dan mana yang masih
projected,” imbuhnya. Dari sisi emiten, Wafi menilai KRAS menjadi pihak yang paling diuntungkan dari program restrukturisasi. Hal ini ditopang oleh kenaikan harga
hot rolled coil (HRC) sebesar 27,70% secara
year-to-date serta penurunan harga gas. Sementara itu, KAEF dinilai menarik karena memiliki permintaan yang bersifat berulang melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Di sisi lain, SMGR dinilai paling sensitif terhadap dampak restrukturisasi karena industri semen masih mengalami kelebihan pasokan
(overcapacity), sehingga ruang perbaikan kinerja relatif terbatas. Adapun ADHI dinilai sebagai saham dengan profil paling spekulatif, mengingat laba yang masih relatif kecil serta backlog proyek yang belum sepenuhnya terkonfirmasi. “Urutan preferensi kami KRAS, kemudian KAEF, SMGR, dan terakhir ADHI,” jelas Wafi. Senada, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas melihat tren perbaikan kinerja emiten BUMN masih berpotensi berlanjut hingga akhir 2026. Hal ini tercermin dari kinerja kuartal I-2026, di mana KRAS berbalik dari rugi Rp767 miliar menjadi laba Rp44 miliar. KAEF dari rugi Rp102 miliar menjadi laba Rp74 miliar. SMGR meningkat dari laba Rp43 miliar menjadi Rp80 miliar, serta ADHI dari laba Rp317 juta menjadi Rp154 miliar. “Kami melihat tren perbaikan masih berpotensi berlanjut hingga akhir 2026. Restrukturisasi dan efisiensi mulai memberikan hasil,” ujarnya. Namun demikian, ia menekankan bahwa keberlanjutan kinerja tetap sangat bergantung pada pemulihan ekonomi, belanja pemerintah, serta kondisi makro secara umum. Dari sisi dampak restrukturisasi, Sukarno menilai langkah tersebut mampu menekan biaya, memperbaiki arus kas, serta meningkatkan efisiensi operasional. Meski begitu, pertumbuhan pendapatan tetap menjadi faktor kunci agar perbaikan kinerja bisa berkelanjutan. “Perbaikan yang berkelanjutan tetap harus didukung oleh pertumbuhan pendapatan, bukan hanya efisiensi biaya,” tegasnya. Ia juga menilai KRAS dan KAEF menjadi emiten yang paling diuntungkan dari restrukturisasi karena telah menunjukkan perbaikan signifikan dari sisi kinerja. Sementara itu, ADHI berpeluang membaik jika proyek infrastruktur kembali meningkat, sedangkan SMGR dinilai memiliki fundamental yang relatif lebih stabil. Meski prospek mulai membaik, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, seperti kualitas laba, kesenjangan antara arus kas dan profit, serta tingginya beban utang. “Jangan hanya melihat perusahaan sudah berbalik laba. Pastikan perbaikan berasal dari bisnis inti, didukung arus kas yang sehat dan penurunan utang,” kata Sukarno. Untuk strategi, Wafi menyarankan investor ritel memperhatikan tiga aspek utama sebelum masuk ke saham t
urnaround. “Apakah
cashflow positif, apakah utang turun, dan apakah ada
revenue catalyst konkret di semester II. Jika ketiganya positif, entry bisa dilakukan bertahap,” jelasnya. Adapun dari sisi rekomendasi, Sukarno memberikan
rating buy untuk saham SMGR dengan target harga Rp2.000 per saham dan KRAS dengan target harga Rp300 per saham.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Jumat (10/7), Ini Kata Analis Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News