KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Astra Agro Lestari (
AALI) tampil sebagai emiten
crude palm oil (CPO) dengan kinerja paling menonjol pada semester I-2026. Di tengah kinerja industri yang bervariasi, AALI berhasil mencatat lonjakan laba bersih lebih dari 56%, sementara sejumlah emiten lain masih menghadapi tekanan akibat penurunan penjualan dan laba. Hingga 30 Juni 2026, AALI membukukan pendapatan Rp 15,25 triliun, naik 5,62% secara tahunan (yoy). Laba bersihnya melesat 56,51% yoy menjadi Rp 1,09 triliun.
Kinerja positif juga dibukukan PT Triputra Agro Persada Tbk (
TAPG). Emiten ini mencatat pendapatan Rp 5,85 triliun atau naik 6,33% yoy, dengan laba bersih tumbuh 20,43% yoy menjadi Rp 2,04 triliun.
Baca Juga: Laba Emiten Haji Isam Pradiksi Gunatama (PGUN) Turun 46,71% per Semester I 2026 Sementara itu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (
DSNG) membukukan pendapatan Rp 6,29 triliun, meningkat 3,4% yoy. Laba bersihnya ikut naik 7,8% menjadi Rp 985,88 miliar. Direktur Utama DSNG Andrianto Oetomo mengatakan, peningkatan laba didorong oleh kenaikan volume penjualan CPO dan palm kernel serta membaiknya harga jual rata-rata ASP). "Kenaikan volume penjualan dan ASP menjadi pendorong utama pertumbuhan laba," ujarnya. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (
LSIP) juga mencatat hasil positif. Penjualannya naik 15,87% yoy menjadi Rp 2,69 triliun, sedangkan laba bersih meningkat 24,71% menjadi Rp 890,99 miliar.
Di sisi lain, emiten sawit Grup Haji Isam masih mencatatkan pelemahan. PT Jhonlin Agro Raya Tbk (
JARR) membukukan penjualan Rp 1,76 triliun, turun 13,6% yoy, sementara laba bersih terkoreksi 0,91% menjadi Rp 158,93 miliar. Anak usahanya, PT Pradiksi Gunatama Tbk (
PGUN), juga mengalami tekanan dengan penjualan turun 20,82% menjadi Rp 304,98 miliar dan laba bersih merosot 46,71% menjadi Rp 44,51 miliar.
Baca Juga: Sinar Mas Agro (SMAR) Jual Pabrik Kelapa Sawit Rp 67,6 Miliar, Ini Rinciannya Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai, secara umum kinerja emiten CPO pada semester I-2026 masih relatif stabil. Perbedaan performa terutama dipengaruhi volume produksi tandan buah segar (TBS) dan efisiensi pengolahan. Menurutnya, stabilnya harga CPO global dan kuatnya permintaan domestik melalui program mandatori biodiesel menjadi penopang utama industri. Harga CPO saat ini berada di level RM 4.629 per ton atau naik sekitar 14,3% sejak awal tahun. Namun, normalisasi produksi sawit setelah siklus cuaca serta kenaikan biaya operasional dan logistik masih menjadi tantangan. David menilai emiten dengan struktur biaya rendah dan pengelolaan usia tanaman yang baik, seperti TAPG dan LSIP, berpotensi mempertahankan margin keuntungan yang lebih kuat.