KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja dua emiten Grup Prodia menunjukkan perbedaan hingga kuartal III-2026. PT Prodia Widyahusada Tbk (
PRDA) masih mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih, sedangkan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) justru mengalami penurunan pendapatan hingga berbalik merugi. Hingga September 2026, PRDA membukukan pendapatan sebesar Rp 1,71 triliun, tumbuh 8,3% secara tahunan. Laba bersih perusahaan juga meningkat 10% menjadi Rp 125,9 miliar. Sebaliknya, pendapatan PRDL anjlok 60,9% secara tahunan menjadi Rp 21,48 miliar. Penurunan tersebut membuat perusahaan berbalik membukukan rugi bersih sebesar Rp 11,09 miliar.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, perbedaan kinerja kedua emiten tersebut terutama dipengaruhi oleh kondisi permintaan dan pemanfaatan kapasitas produksi.
Baca Juga: GOTO Batalkan 32 Miliar Saham Treasuri &Eksekusi Buyback, Ini Dampaknya bagi Investor PRDA ditopang pertumbuhan volume pemeriksaan laboratorium yang relatif stabil serta kebutuhan layanan kesehatan yang terus meningkat. Sementara itu, PRDL menghadapi penurunan permintaan, perubahan pola pembelian pelanggan, dan utilisasi fasilitas produksi yang belum optimal. "Tekanan PRDL berpotensi bersifat sementara, tetapi pemulihannya bergantung pada normalisasi permintaan dan peningkatan utilisasi produksi," ujar Alrich kepada Kontan, Selasa (3/11/2026). Menurut Alrich, PRDA masih memiliki prospek positif hingga ke depan. Pertumbuhan bisnis perusahaan berpeluang ditopang peningkatan kebutuhan pemeriksaan kesehatan, inovasi layanan diagnostik, dan ekspansi digital. Adapun PRDL berpotensi mulai pulih pada 2027 apabila permintaan kembali meningkat dan efisiensi produksi membaik. Namun, pemulihan tersebut masih bergantung pada kemampuan perusahaan mengembalikan volume penjualan dan mengoptimalkan kapasitas fasilitas produksinya. Dari sisi bisnis grup, Alrich melihat PRDA dan PRDL memiliki ekosistem yang saling melengkapi. PRDA beroperasi sebagai penyedia layanan laboratorium, sedangkan PRDL bergerak di bidang produk diagnostik. Sinergi keduanya berpotensi meningkatkan efisiensi rantai pasok, memperkuat pengembangan produk, serta mengoptimalkan kebutuhan internal grup. Untuk PRDA, katalis pertumbuhan antara lain berasal dari peningkatan volume pemeriksaan, inovasi tes diagnostik, dan digitalisasi layanan. Namun, perusahaan tetap perlu mencermati persaingan serta kenaikan biaya operasional.
Baca Juga: Kapasitas Data Center Telkom (TLKM) di Cikarang Terisi Penuh, Bidik Ekspansi 400 MW Sementara itu, pemulihan permintaan, perluasan pelanggan, dan peningkatan utilisasi pabrik menjadi katalis bagi PRDL. Di sisi lain, persaingan produk impor, ketidakpastian pengadaan, dan tekanan margin masih menjadi risiko yang perlu diperhatikan. Meski melihat peluang pemulihan, Alrich menyarankan investor untuk bersikap hati-hati terhadap kedua saham tersebut. "Keduanya wait and see terlebih dulu, market-nya saat ini masih terlalu volatile," jelasnya. Pandangan serupa mengenai perbedaan fundamental kedua emiten disampaikan Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo. Ia menilai, PRDA memiliki karakter bisnis yang relatif defensif karena ditopang layanan laboratorium klinik dan permintaan pemeriksaan kesehatan yang stabil. "Sementara PRDL tertekan akibat penurunan permintaan produk diagnostik dan belum optimalnya utilisasi fasilitas produksi," kata Azis. Menurut Azis, PRDA berpeluang mempertahankan pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan. Sebaliknya, PRDL masih membutuhkan waktu untuk memulihkan volume penjualan dan meningkatkan efisiensi operasional.
"PRDL masih membutuhkan waktu untuk pemulihan, terutama melalui peningkatan volume penjualan dan efisiensi operasional," ujarnya. Azis melihat peningkatan kebutuhan pemeriksaan kesehatan, inovasi diagnostik, dan ekspansi jaringan sebagai katalis bagi PRDA. Adapun risiko yang perlu dicermati mencakup persaingan, daya beli masyarakat, serta rendahnya utilisasi fasilitas PRDL. Dari sisi investasi, Azis merekomendasikan trading buy untuk saham PRDA dengan target harga Rp 3.750 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News