KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten komponen otomotif dalam negeri diprediksi masih cerah ke depan, seiring semakin derasnya penetrasi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di pasar domestik. Sinyal positif ini terlihat dari langkah ekspansi yang diambil sejumlah pemain industri, salah satunya PT Dharma Polimetal Tbk (
DRMA), yang baru-baru ini merambah segmen EV lewat kerja sama dengan perusahaan komponen otomotif global asal China, Minth Group. Di sisi lain, langkah pemerintah memperketat aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) turut menjadi katalis positif bagi emiten komponen otomotif domestik. Kementerian Perindustrian menegaskan peta jalan kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB), dengan penetapan nilai TKDN paling rendah 40% sampai 2026, meningkat menjadi minimal 60% untuk rentang 2027–2029, dan ditargetkan menembus paling sedikit 80% mulai 2030.
Baca Juga: Harga Saham Melesat 551%, Begini Penjelasan Manajemen NexAI Digital (MGLV) Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, memproyeksikan prospek emiten komponen otomotif masih cukup positif seiring meningkatnya penetrasi kendaraan elektrifikasi serta target TKDN EV yang kian tinggi. Data DRMA menunjukkan porsi BEV (mobil listrik murni), HEV (hybrid), dan PHEV (plug-in hybrid) di pasar roda empat Indonesia naik dari 21,8% pada 2025 menjadi 28,1% pada delapan bulan pertama tahun 2026. Tren kenaikan porsi kendaraan elektrifikasi inilah yang akan turut mengerek permintaan komponen lokal ke depan. "Jadi permintaan komponen lokal seharusnya ikut meningkat, terutama untuk komponen yang lebih spesifik ke EV seperti
battery housing, komponen kelistrikan tegangan tinggi, aluminium
body/chassis dan
thermal management," kata Liza kepada Kontan, Rabu (16/9/2026). Liza berpendapat emiten komponen otomotif ke depan akan semakin ekspansif, namun kemungkinan besar banyak yang memilih jalur joint venture (JV) atau kemitraan dengan pemain global agar lebih cepat memperoleh transfer teknologi sekaligus akses ke produsen kendaraan (OEM) seperti Toyota, Hyundai, BYD, dan lainnya. Langkah DRMA menjadi salah satu contohnya. Perusahaan tersebut membentuk PT Dharma Minth Indonesia bersama Minth Group untuk memproduksi
battery housing,
aluminium body & chassis, serta komponen plastik, dengan operasi ditargetkan mulai berjalan pada kuartal II-2027. Kendati demikian, Liza mengingatkan tantangan sesungguhnya tetap terletak pada eksekusi, mulai dari kepastian order yang benar-benar masuk, tingkat utilisasi pabrik, terjaganya margin, hingga daya saing produk lokal dibandingkan komponen impor, terutama dari China.
Baca Juga: Saham Rokok Tertekan Usai Reshuffle Menkeu, Ketidakpastian Cukai Jadi Pemicu Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengamini prospek industri komponen otomotif berbasis EV cukup positif dalam jangka menengah hingga panjang. Sebab, pertumbuhan kendaraan listrik akan menciptakan kebutuhan baru terhadap berbagai komponen lokal, terutama ketika target TKDN terus ditingkatkan. "Kenaikan TKDN menjadi katalis bagi industri komponen domestik karena produsen kendaraan listrik akan semakin membutuhkan pemasok lokal untuk memenuhi persyaratan tersebut," ujar Nafan. Dus, permintaan terhadap komponen EV produksi dalam negeri berpotensi terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penetrasi kendaraan listrik dan semakin dalamnya rantai pasok EV di Indonesia. Namun, pertumbuhan tersebut tetap akan bergantung pada perkembangan volume produksi EV di dalam negeri serta kemampuan pemasok lokal memenuhi standar kualitas, harga, kapasitas, dan spesifikasi yang ditetapkan produsen otomotif. "Saya melihat perusahaan komponen otomotif juga berpotensi semakin ekspansif dalam menggarap segmen kendaraan listrik, baik melalui investasi mandiri maupun kemitraan strategis dengan perusahaan global," tambah Nafan.
Baca Juga: BMKS Bakal Beroperasi, Begini Prospek Saham Emiten Mineral Namun, tantangan yang perlu diperhatikan antara lain kebutuhan investasi dan teknologi yang cukup besar, sertifikasi produk, kemampuan memenuhi standar kualitas global, efisiensi biaya, serta kepastian volume permintaan. Kenaikan TKDN memang menciptakan peluang, tetapi perusahaan tetap harus mampu menghasilkan komponen dengan kualitas kompetitif dan harga yang efisien agar dapat menjadi pemasok utama bagi agen pemegang merek (APM). Dari sisi emiten yang telah tercatat di bursa, Liza menyebut DRMA dan PT Astra Otoparts Tbk (
AUTO) sebagai dua nama yang memiliki eksposur cukup jelas terhadap tren EV. DRMA dianggap menarik karena ekspansi JV bersama Minth membuka kategori produk baru sekaligus memperbesar eksposur perseroan ke segmen EV, sementara basis manufaktur yang sudah tersedia membuat belanja modal awal JV relatif tidak terlalu besar. Sementara itu, AUTO dinilai memiliki skala bisnis yang lebih besar dan telah mengembangkan berbagai komponen untuk kendaraan elektrifikasi. "Jadi peluangnya cukup besar, tapi tetap perlu dilihat siapa yang benar-benar berhasil mengubah tren EV menjadi kontrak, volume produksi, dan laba nyata," tambah Liza. Disamping itu, Nafan menerangkan, DRMA menjadi salah satu emiten yang memiliki eksposur cukup jelas terhadap tema lokalisasi komponen kendaraan listrik. Ini didukung oleh pembentukan usaha patungan dengan Minth Group yang memungkinkan DRMA masuk lebih dalam ke rantai pasok komponen EV, khususnya melalui produksi battery housing serta komponen struktur bodi dan sasis.
Selain itu, peluang memperoleh permintaan dari sejumlah produsen otomotif yang memproduksi kendaraan listrik di Indonesia dapat menjadi katalis pertumbuhan ke depan. Dengan semakin banyaknya model EV yang diproduksi secara lokal, kebutuhan terhadap komponen yang memenuhi standar TKDN juga berpotensi meningkat. Dari sisi pergerakan saham, Liza juga menerangkan harga saham DRMA saat ini telah keluar dari tren naik yang sebelumnya bergerak di atas
moving average 10 hari (MA10) dan MA20. Kondisi ini membuat investor perlu mewaspadai potensi pembalikan arah (
bearish reversal) dengan pembentukan pola
double top, di mana level Rp 985 menjadi neckline atau titik penentu penting yang perlu dicermati.
Jika level
support tersebut tertembus, DRMA berpotensi melanjutkan pelemahan ke area konsolidasi di kisaran Rp 965 hingga Rp 930. Sebagai catatan tambahan, Liza juga menyoroti indikator MA10 dan MA20 yang sudah mulai membentuk
dead cross. Oleh karena itu, ia menyarankan investor mempertimbangkan untuk mengurangi posisi apabila harga DRMA sempat
rebound ke area Rp 1.000–Rp 1.010 per saham. Adapun Nafan menyarankan untuk investor mengambil posisi
wait and see untuk saham DRMA. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News