Emiten LQ45 Cetak Kinerja Cemerlang, Saham Komoditas dan Energi Jadi Penopang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 mencatatkan pertumbuhan kinerja signifikan sepanjang periode Januari–September 2026. Emiten dari sektor logam dan energi menjadi salah satu penopang pertumbuhan tersebut.

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), misalnya, mencatat pendapatan sebesar US$ 3,24 miliar atau melonjak 493,7% secara tahunan. AMMN juga berhasil membalikkan rugi bersih US$ 178,53 juta menjadi laba bersih US$ 871,47 juta.

PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) juga mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 85,6% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi US$ 1,25 miliar, dengan laba bersih mencapai US$ 318,47 juta atau naik 56,8% YoY.


Adapun dari sisi laba bersih, pertumbuhan tertinggi secara persentase dicatatkan PT Indika Energy Tbk (INDY) sebesar 4.118,3% YoY menjadi US$ 20,21 juta. Disusul PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang mencatatkan pertumbuhan 612,8% YoY.

Baca Juga: Rupiah Masih Dibayangi Penguatan Dolar AS, Simak Proyeksinya Awal Pekan

Di luar sektor komoditas, kinerja impresif juga ditorehkan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Pendapatan WIFI melesat 191,9% YoY, dengan laba bersih mencapai Rp 478,22 miliar atau naik 83,9% secara tahunan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan, kinerja konstituen LQ45 masih cukup tangguh, meski pertumbuhan belum tersebar merata di seluruh sektor.

“Kondisi tersebut memperlihatkan korporasi domestik masih memiliki daya tahan menghadapi ketidakpastian ekonomi, tekanan rupiah serta gejolak pasar modal,” katanya kepada Kontan, Minggu (8/11/2026).

Namun, dalam catatan Nafan, secara keseluruhan laba bersih dari 796 emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 466,15 triliun per 3 November 2026. Perolehan itu naik 14,37% secara tahunan.

Dari jumlah tersebut, 472 emiten atau 59,3% mencatatkan perbaikan kinerja. Sementara itu, 324 emiten atau 40,7% mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Artinya, secara agregat profitabilitas korporasi masih bertumbuh, meskipun belum seluruh perusahaan mampu menikmati pemulihan tersebut,” tuturnya.

Dari sisi ekspektasi, kata Nafan, hasil awal musim laporan keuangan juga relatif moderat. Sebanyak 26,3% emiten yang telah melaporkan kinerja berada di atas estimasi, 52,6% sesuai ekspektasi, dan 21,1% di bawah ekspektasi.

“Dengan demikian, mayoritas kinerja emiten masih sesuai dengan proyeksi pasar, tetapi belum menunjukkan akselerasi pertumbuhan laba yang benar-benar merata,” ucap dia.

Nafan menjelaskan, dari sisi sektoral, sektor energi dan logam menjadi salah satu penopang pertumbuhan laba. Laba agregat sektor logam meningkat 244,1% YoY pada kuartal III-2026, ditopang perbaikan kinerja AMMN, TINS, dan ANTM.

Baca Juga: Emas Global Perkasa pasca-Pemilu AS, Harga Emas Antam Berpotensi Lanjutkan Reli

Sebaliknya, sektor konsumer masih menghadapi tantangan. Meskipun pendapatan agregat sektor ini tumbuh 15,1% YoY, laba inti hanya meningkat 8% YoY dan turun 5,5% secara kuartalan.

“Hal tersebut mengindikasikan masih adanya tekanan margin akibat kenaikan biaya bahan baku, biaya distribusi, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih,” jelas Nafan.

Selain itu, Nafan mencermati laba inti sektor telekomunikasi mengalami penurunan 28,6% secara kuartalan. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh tekanan pendapatan seluler dan peningkatan biaya infrastruktur.

Head of Investment Stockbit dan Bibit Vivi Handoyo menambahkan, hasil laporan keuangan sejauh ini cenderung sesuai ekspektasi sehingga investor perlu lebih selektif dalam memilih saham.

“Untuk melihat kinerja suatu sektor, menurut saya, investor juga perlu memperhatikan kondisi masing-masing perusahaan secara spesifik,” katanya dalam diskusi daring, Sabtu (7/11).

Vivi menyebut penilaian investasi sebaiknya tidak berhenti pada sektor, tetapi juga memperhatikan kondisi dan prospek masing-masing perusahaan secara lebih spesifik dalam menentukan pilihan saham.

“Selain sektor konsumer, kinerja emiten berbasis komoditas juga masih cukup baik. Namun, perlu diingat bahwa hasil laporan keuangan merupakan gambaran kinerja masa lalu,” kata dia.

Namun, Vivi mengingatkan bahwa kinerja laporan keuangan merupakan gambaran historis sehingga investor tetap perlu menilai prospek ke depan sebelum mengambil keputusan investasi dan memilih saham.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Fluktuatif, Pasar Cermati Data Tenaga Kerja AS dan Konflik Iran

Vivi juga menyoroti peluang pada saham konsumer tertentu karena tekanan laba dinilai mungkin telah melewati titik terburuk. Sementara itu, emiten dengan dividen tinggi tetap menarik bagi investor.

Untuk sektor perbankan, Vivi menyebut pertumbuhan kredit masih cukup baik. Namun, sejumlah bank berpotensi menahan rasio pembayaran dividen pada 2027 karena kebutuhan likuiditas dan belanja teknologi.

Di antara bank besar, Stockbit masih menjagokan BBNI dan BBRI. Menurutnya, BBNI memiliki potensi menarik dari sisi pembagian dividen, sementara BBRI menunjukkan perbaikan kualitas aset.

Sementara itu, Nafan merekomendasikan add untuk saham ANTM, UNTR, dan ICBP dengan masing-masing target harga Rp 3.650 per saham, Rp 28.575 per saham, dan Rp 7.575 per saham. Dia juga menyarankan trading buy MYOR dengan target harga Rp 1.415 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News