Emiten Non-Tambang Gencar Akuisisi Perusahaan Batubara, Bagaimana Prospeknya?



KONTAN.CO.ID- JAKARTA. Meski kerap disebut sudah memasuki periode senja kala, industri pertambangan batubara tetap memiliki daya tarik tinggi bagi sebagian emiten. Hal ini terlihat dari tren ekspansi sejumlah emiten non-tambang ke sektor tersebut.

Salah satu contohnya adalah PT Singaraja Putra Tbk (SINI) yang baru-baru ini mengakuisisi saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), anak usaha PT Petrosea Tbk (PTRO), senilai Rp 1,73 triliun.

Seiring dengan akuisisi tersebut, SINI menargetkan volume penjualan batubara konsolidasian meningkat secara bertahap dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar 203.057 ton.


Untuk ke depannya, KMS yang memiliki aset tambang batubara di Kalimantan Timur ditargetkan mampu meningkatkan produksinya secara bertahap, mulai dari kisaran 1 juta ton per tahun pada tahap awal hingga mencapai kapasitas optimal sekitar 5 juta ton per tahun.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham dan Prospek Kinerja Emiten Batubara di Paruh Kedua 2026

Selain itu, ada PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) yang sedang menyiapkan rights issue dengan nilai mencapai Rp 27,1 triliun.

Sebagian besar dana tersebut atau Rp 20,82 triliun akan digunakan FORU untuk mengakuisisi 49% saham PT Borneo Prima dengan mekanismse transaksi menggunakan cara inbreng atau penyetoran modal dalam bentuk selain uang.

Akuisisi ini akan membuat kegiatan usaha utama FORU berubah dari bidang media, periklanan, dan percetakan menjadi perusahaan holding pertambangan batubara.

PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) juga bersiap mengakuisisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) dengan nilai transaksi sekitar US$ 100 juta. Transaksi akuisisi ini ditargetkan selesai pada kuartal III-2026 dengan skema pertukaran saham atau share swap.

Untuk itu, MEJA merancang aksi korporasi berupa rights issue dengan kisaran harga Rp 450--Rp 550 per saham guna mendukung rencana akuisisi tersebut.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat sektor batubara tetap memiliki daya tarik tinggi, sehingga beberapa emiten tanpa latar belakang pertambangan mau berekspansi ke sektor tersebut. 

Baca Juga: Harga Batubara Naik: Kinerja PTBA Diproyeksi Membaik, Simak Rekomendasi Sahamnya

Misalnya, harga batubara yang bertahan di level tinggi atau di atas US$ 100 per ton akibat efek perang yang memicu lonjakan permintaan di tengah gangguan pasokan energi di luar batubara.

Selain itu, valuasi aset tambang juga tertekan oleh diskon faktor keberlanjutan sementara arus kas riil aset tersebut masih kuat. 

Pendanaan akuisisi melalui rights issue juga dipandang lebih murah bagi emiten di tengah suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang mencapai 5,75%. 

"Sektor batubara tetap menjanjikan dalam jangka menengah atau 3-5 tahun selama transisi energi berjalan lebih lambat daripada ekspektasi," ujar dia, Senin (27/7).

Risiko utama dari akuisisi tersebut yang perlu diperhatikan emiten antara lain tantangan minimnya pengalaman operasional, potensi tertundanya revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB), revisi kebijakan tarif royalti, hingga perubahan haluan ESG yang dapat membatasi akses pendanaan internasional.

Wafi menilai bahwa ketersediaan sumber daya manusia (SDM) operasional tambang adalah bottleneck terbesar bagi emiten yang baru ekspansi ke sektor batubara.

Baca Juga: Pemerintah Minta Pasokan Batubara PLN Ditambah, Begini Prospek Emiten Sektor Batubara Solusi yang bisa ditempuh emiten adalah mendatangkan jajaran manajemen yang sudah berpengalaman atau pastikan target akuisisi sudah punya tim operasional.

Di samping itu, persetujuan RKAB juga harus diamankan oleh emiten sebelum penutupan transaksi. "Pendanaan harus diperkuat sebelum capital expenditure (capex) besar keluar," imbuh dia.

Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyampaikan, sektor batubara masih menawarkan arus kas yang relatif kuat, terutama bagi tambang yang memiliki biaya produksi rendah.

Di samping itu, permintaan batubara di pasar domestik masih ditopang kebutuhan pembangkit listrik, sementara permintaan ekspor, khususnya dari sejumlah negara Asia, masih cukup solid meskipun laju pertumbuhannya mulai melambat. 

Untuk batubara metalurgi, prospeknya juga menarik karena digunakan dalam industri baja, sehingga memiliki dinamika permintaan yang berbeda dibanding batubara termal. Hal-hal seperti ini yang membuat emiten berbondong-bondong melirik sektor batubara.

Ditambah lagi, ekspansi melalui akuisisi aset tambang juga dapat menjadi jalan yang lebih cepat dibandingkan membangun proyek dari nol.

"Emiten dapat langsung memperoleh cadangan, izin usaha, serta produksi yang sudah berjalan, sehingga berpotensi mempercepat kontribusi terhadap pendapatan dan laba," ungkap dia, Rabu (28/7).

Baca Juga: United Tractors (UNTR) Terus Memperkuat Lini Usaha Mineral Non-Batubara

Namun, Nafan juga menganggap risiko yang dihadapi emiten tidaklah kecil. Emiten harus berhadapan dengan tantangan integrasi pascaakuisisi tambang, fluktuasi harga batubara, perubahan regulasi pertambangan, kebutuhan belanja modal yang besar, serta potensi peningkatan leverage apabila akuisisi didanai melalui utang. 

Selain itu, bagi emiten yang berasal dari sektor berbeda, terdapat risiko eksekusi karena karakteristik industri pertambangan sangat berbeda dengan bisnis sebelumnya.