Emiten otomotif berharap besar dari pameran



JAKARTA. Pameran otomotif yang hadir dua kali setahun menjadi sentimen positif industri otomotif Tanah Air. Indonesia International Motor Show (IIMS 2016) yang digelar April lalu, mengantongi penjualan Rp 2,1 triliun, naik 31% dibandingkan tahun lalu, yang hanya Rp 1,63 triliun.

Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang sedang berlangsung, diharapkan mampu mendongkrak penjualan semester kedua. Pada pameran ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menargetkan bisa mengantongi penjualan 20.000 unit kendaraan.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, mengatakan, GIIAS bisa saja mendongkrak penjualan, karena banyak produk baru yang menarik. Ini menjadi kelanjutan kinerja industri otomotif yang positif di semester pertama lalu.


Sebagai emiten berkapitalisasi besar, PT Astra International Tbk (ASII) dinilai masih memiliki kinerja bagus di segmen otomotif dari mobil, motor, sampai suku cadangnya.

William Surya Wijaya, analis Asjaya Indosurya Securities, menilai, penjualan mobil ASII bisa terdongkrak dengan adanya produk baru, yaitu Toyota Cayla dan Daihatsu Sigra. Produk ini mampu mengisi kekosongan segmentasi low cost green car (LCGC) dengan tujuh penumpang.

"ASII sempat kecolongan oleh Honda Mobilio dan Suzuki Ertiga di segmentasi LCGC," kata William kepada KONTAN, Jumat (12/08).

William menilai, pasar paling banyak meminati jenis mobil LCGC, karena harga terjangkau dengan kapasitas penumpang lebih besar. Tapi, penjualan kendaraan di semester dua akan tergantung daya beli masyarakat.

ASII dan para agen pemegang merek tidak bisa mengendalikan daya beli. Selain itu, infrastruktur yang masih kurang baik, dinilai bisa menghambat laju penjualan kendaraan. Namun, penurunan suku bunga kredit menjadi kabar baik bagi penjualan kendaraan.

"Apalagi ada wacana kebijakan down payment 0% yang akan memudahkan masyarakat untuk membeli kendaraan baru," tambah William.

Selain itu William melihat, kinerja PT Indomobil Sukses International Tbk (IMAS) emiten yang bergerak di bidang sewa kendaraan dan jasa keuangan masih bagus karena Datsun yang lebih dulu menguasai pasar LCGC. Suzuki pun berencana untuk ikut andil dalam meramaikan pasar LCGC.

Analis BNI Securities Thennesia Debora mengatakan, pertumbuhan sektor otomotif masih cukup berat meski sempat menunjukkan pertumbuhan pada penjualan bulanan sebelum Lebaran. Dia memperkirakan, pasar otomotif baru akan membaik awal 2017.

"Pemerintah juga akan ada kebijakan uang muka 0% untuk DP kendaraan. Itu bisa menjadi trigger bila terealisasi," kata dia.

Thennesia melanjutkan, kinerja ASII masih akan tertekan oleh anak perusahaan bidang pertambangan dan perbankan. "Dari beberapa kinerja anak perusahaan yang belum menunjukkan profit akan berpengaruh ke kinerja ASII," katanya.

Thennesia merekomendasikan hold untuk ASII dengan target Rp 7.000 dan IMAS hold dengan target Rp 1.600. Seiring dengan peningkatan penjualan mobil dan motor, emiten pendukung sektor otomotif seperti ban dan spare part pun terdongkrak.

Hans mengatakan, penjualan turunan otomotif biasanya cenderung stabil walau penjualan otomotif sedikit melambat. "Kurs bisa lebih stabil, ekspektasi penurunan bunga, dan realisasi tax amnesty bisa mendongkrak penjualan otomotif dan turunannya di tahun ini," kata Hans.

Hans menilai, kinerja PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) cukup bagus, meski produsen ban tak terlepas dari gejolak kurs. Sedangkan William melihat, GJTL menarik karena memasok ban mobil LCGC.

"MASA juga bagus, harga cukup bersaing dengan kualitas yang baik," tambah William. Namun, William menyayangkan, emiten pendukung seperti AUTO dan SMSM yang sebenarnya memiliki kinerja bagus, tapi sahamnya tidak likuid.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie